Beranda ACEH TENGAH

Terkubur Di Gayo Ini Kisah Cinta Sejati Perantau Asal Solo

BERBAGI

ENTAH mengapa ketika penulis melintasi gubuk tak terurus satu ini selalu ada panggilan jiwa untuk kembali mengisahkan cerita dibalik keberadaannya. Pemiliknya sudah lama almarhum, namun ada “sejuta” kisah cinta seorang anak manusia yang belum terjawab hingga kini.

Siapa dia? Pada 2009 lalu, penulis pernah membuat liputan khusus tentang lelaki sebatang kara ini. Waktu itu, ia sakit keras, usianya 77 tahun. Hidup menyendiri dengan memendam kerinduan teramat sangat terhadap istri dan si buah hati.

Adalah Lekmin, demikian warga Desa Atu Gajah di Kecamatan, Bebesen, Aceh Tengah mengenalnya. Kini, ia telah tiada. Almarhum yang bernama lengkap Saimin berpulang 3 tahun kemudian setelah kisahnya terpublikasi di Media Cetak Harian Waspada terbitan Medan.

Saat itu, dalam keadaan tak terurus dan sakit, Lekmin tinggal di gubuk yang memprihatinkan. “Istananya” hanya berlantai tanah pemberian Tuhan. Bila musim hujan bocor dimana-mana. Jangankan sebagai tempat berteduh, sekedar tidur membuang penat  saja sudah tak memungkinkan.

Yaach….begitulah sekilas cerita Lekmin semasa hidup. Namun, bagaimana kisah cintanya? Masih terekam dibenak penulis bagaimana dirinya mempertahankan cinta sejatinya sampai maut menjemput dalam kesendirian.

Berdasarkan penuturan Lekmin, sejak 1960, ia meninggalkan kampung halamannya Bergalan Solo (bukan Begawan Solo-red), Jawa Tengah. Ia mengejar peruntungan dengan mengembara ke Provinsi Aceh tanpa membawa istri yang ketika itu sedang mengandung 3 bulan calon bayinya.

Sesampai di daerah “Serambi Makkah” ini, Saimin muda memulai perjalanan nasip dengan berjualan es krim pancung di Kuala Simpang. Kemudian, karena penghasilan tak mencukupi untuk sekedar mengisi perut dan mengirim belanja kebutuhan keluarga di Pulau Jawa, Saimin akhirnya pindah ke tanoh Gayo. Memulai peruntungan sebagai petani kopi.

Mirisnya, selama 55 tahun kepindahannya dari kampung asal. Saimin putus kontak, tanpa bertukar kabar dengan pihak keluarganya. Pun begitu ia tetap sendiri, tidak menikah dan mempertahankan mahligai rumah tangganya sampai ajal menjemput.

“Saya ingin pulang ke Bergalan. Tapi tak punya biaya. Saya sangat merindukan istri dan anak. Saya ingin ketemu keluarga,” ungkap Lekmin ketika itu.

Ia menuturkan, semenjak dirinya terdampar di bumi Gayo, kerinduan itu semakin mendalam mengusik bathinnya. Namun, selain kondisi ekonomi yang tak memungkinkan untuk pulang, saat itu berkirim surat sangat sulit dilakukan.

“Sebelumnya saya masih bisa berkirim surat untuk mengetahui kabar istri di Jawa. Tapi sejak pindah ke sini (Atu Gajah), komunikasi kami putus. Ngirim surat susah , karena waktu itu kawasan ini masih dipenuhi hutan lebat,” paparnya.

Singkatnya, setelah putra pertamanya lahir dan sudah pandai berjalan, sejak itulah Lekmin tidak mengetahui kabar istrinya. Sebab ia menetap di wilayah yang cukup jauh dari Kota Takengen. Apalagi di era 60-an Atu Gajah merupakan sebuah kawasan hutan yang sulit dilalui kendaraan.

Saat itu, untuk mengantar surat dari kampung tersebut ke arah kota sangat sulit. Sepanjang jalan hanya hutan belantara yang dapat dilalui dengan berjalan setapak. Belum lagi kondisi rimba yang masih “perawan” yang kerap dilalui hewan buas yang berkeliaran.

Namun, ketika ada kesempatan, Saimin tetap berupaya mengirim surat. Tapi tidak pernah mendapat balasan. Pun begitu, ia tak pernah putus asa dan kembali mengirim beberapa surat, tetap tak ada balasan. Akhirnya hubungan kasih itu putus terbawa takdir. Hati Saimin menderita dan ia tetap bertekat untuk bisa kembali ke anak istrinya.

Takdir berkata lain, sampai akhir hidupnya Saimin tak mampu memenuhi keinginan untuk perkumpul dengan keluarga. Ia pendam gelora hatinya dengan kesendirian di tanah perantauan. Kesetiaan kepada istri telah dibuktikannya. Hingga menutup mata di usia 80 tahun ia tak pernah berpaling ke hati wanita lain.

Kisah langka cinta sejati anak manusia ini, sampai kini belum terjawab. Siapa nama istri dan anaknya? Kala itu saat ditanya penulis, Lekmin mengaku lupa. Hanya satu kalimat terekam dijiwanya, Bergalan Solo, kampung halaman yang menyimpan kenangan indah bersama istri dan anak tersayang.

Selamat jalan Saimin, damailah di alam “sana” di bawah pusara tanah Atu Gajah. Engkau mungkin bukan siapa-siapa. Hanya rakyat jelata yang ingin merubah peruntungan dan terdampar di negeri Gayo. Kisah cintamu akan abadi, dalam catatan perjalanan hidup seorang pengembara dari Pulau Jawa.[]**Irwandi MN (foto almarhum Saimin direkam 2009)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here