Beranda BERITA ALA

Terkait Situasi Politik Internal PA, GAM Eks Libya Desak Mubes PA

BERBAGI

images

BANDA ACEH – Berbagai situasi politik di internal Partai Aceh (PA) disikapi oleh para eks kombatan GAM lulusan pelatihan militer di Tripoli, Libya dengan mendesak Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar menyelenggarakan Musyawarah Ban Sigom Donya atau Mubes (Musyawarah Besar) untuk memperkuat konsolidasi politik dan pembangunan Aceh ke depan. Mubes itu sendiri diharapkan berlangsung pada Agustus 2014.

Para Mualem–sebutan eks kombatan GAM lulusan Libya–yang berjumlah sekitar 30 orang menyatakan sikap di hadapan Gubernur Aceh yang juga Tuha Peut PA, dr Zaini Abdullah dalam pertemuan silaturahmi dan buka puasa bersama di Pendopo Gubernur, Sabtu (5/7).

Pernyataan sikap itu sendiri terkait dengan berbagai situasi politik di internal PA yang belakangan ini kerap diterpa berbagai persoalan, termasuk soal menurunnya perolehan suara PA pada Pileg 2014 serta soal adanya dugaan pelanggaran AD/ART yang dilakukan kader partai.

Sebagaimana pantauan Serambi, pertemuan ini turut juga dihadiri mantan Menteri Pertahanan GAM yang juga anggota Tuha Peut Partai Aceh, Zakaria Saman serta sekitar 30 alumni eks kombatan GAM yang pernah menimba ilmu di bawah bimbingan deklarator GAM, Dr Tgk Hasan Muhamad Di Tiro saat menjalani latihan militer di Tripoli, Libya.

“Tuha Peut Partai harus melakukan intervensi strategis dan taktis terhadap pengurus Partai Aceh dan KPA supaya dapat berjalan sesuai dengan AD/ART,” bunyi salah satu dari sembilan poin pernyataan sikap para Mualem yang dibacakan di hadapan Doto Zaini Abdullah. Pertemuan berlangsung tertutup ini dimulai sekitar pukul 18.00 WIB dan berakhir menjelang buka puasa. Menurut para Mualem, Tuha Peut Partai sebagai organ tertinggi organisasi punya keewenangan untuk mengambil kebijakan yang arif dan bermanfaat bagi seluruh kombatan dan rakyat Aceh. Termasuk melakukan intervensi strategis dan taktis terhadap kader dan pengurus partai yang melenceng dari AD/ART partai.

Pernyataan sikap tersebut juga menyingggung soal Ketua Partai Aceh, Muzakir Manaf. Para Mualem meminta Muzakir agar dalam setiap mengambil kebijakan strategis partai harus sesuai dengan AD/ART. (Lihat pernyataan sikap para Mualem).

Tak terkait capres

Ketua Majelis Tuha Lapan PA, Syafruddin Hasyim yang merupakan eks kombatan GAM lulusan Libya mengatakan, desakan Mubes sebagaimana yang tertuang dalam sembilan poin pernyataan sikap para Mualem tidak ada kaitannya dengan situasi politik internal PA yang terpecah dalam memberi dukungan kepada pasangan calon presiden dalam Pilpres 2014.

“Ini bukan Musbes soal dukungan untuk pasangan calon presiden. Tapi untuk kebaikan semua rakyat Aceh,” kata Syafruddin kepada Serambi seusai pertemuan.

Menurutnya, setiap orang punya hak politik untuk memilih. Karenanya, kata dia, pilihan politik berpulang pada diri masing-masing. “Siapa saja yang menang, itu untuk kebaikan buat kita. Salah satunya (pasangan capes-cawapres) memang harus menjadi presiden, tidak mungkin dua-dua,” sebutnya.

Sebagaimana diketahui, kader PA terpecah dalam memberi dukungan dalam Pilpres. Di jajaran Tuha Peut, yang dimotori Zaini Abdullah dan Zakaria Saman mendukung capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sementara di kalangan Ketua Umum PA yang dimotori Muzakir Manaf mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Menurut Syafruddin, atas berbagai persoalan politik internal PA tersebut, pihaknya tidak terlalu fokus pada soal dukung mendukung capres-cawapres. Pihaknya justru menginginkan PA semakin lebih baik ke depan dan dapat menjadi wadah tempat para mantan gerilyawan GAM bernaung menyalurkan aspirasi politiknya secara bermartabat. Karena itu, kata Syafruddin, PA harus dijalankan di atas peraturan yang sudah ditetapkan dalam AD/ART, bukan atas kemauan masing-masing pihak.

“Tujuan kami berkumpul hari ini semata untuk kebaikan. Tidak ada tujuan lain. Apa saja yang kita lakukan, harus dengan undang-undang (aturan), tidak bisa dengan kemauan kita masing-masing,” ujarnya.

Menurut Syafruddin Hasyim, kehadiran para Mualem ke Pendopo juga dimaknai sebagai silaturahmi dengan Doto Zaini selaku orang tua di samping untuk melakukan konsolidasi internal PA. Dia menegaskan, setiap kebijakan yang diputuskan partai semestinya berjalan lewat musyawarah.

“Partai Aceh tidak ada masalah, kurang kursi (pada Pileg 2014) itu hal biasa. Yang penting ke depan kita berkomitmen untuk lebih baik. Itu maknanya kita harus bekerja keras,” demikian Syafruddin. (Serambi Indonesia)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here