Beranda ACEH TENGAH

Soal Kopi Gayo Anjlok, Anak Petani Kirim Surat Terbuka Ke Gubernur Aceh

BERBAGI

Assalamualaikum Ama (gubernur Aceh), semoga sehat lancar ibadah puasa dan dimudahkan mengurus negeri Aceh kita.

Dengan keprihatinan yang mendalam saya, Maharadi  menulis surat ini kepada Ama, seorang putra Gayo yang lahir dari garis keluarga petani kopi.

Jikapun mungkin ada perbedaan, saat ini saya bisa merasakan penderitaan saudara-saudara petani kopi yang sedang tercekik akibat dampak covid-19.

Harga beli ditingkat petani dan ekspor Kopi Gayo terganggu, Harga jual Kopi Arabika Gayo ditingkat petani saat ini tak menentu, Ama.

Pengepul enggan membeli gabah Kopi dari petani langsung dengan skala besar. Harga Gelondong (cherry) saat ini turun berkisar Rp 6000 per bambu sebagian Rp 5000/kg. Saat ini masyarakat mengalami kesulitan menjual kopi setelah panen.

Petani harus merelakan membagi 3/4 kopinya kepada jasa petik, sisa yang dibawa petani 60 % dan belum lagi dikurangi biaya pemupukan, perawatan.

Sementara, sembako yang Ama bagikan melalui Dinas Sosial Aceh baru datang kemarin, 15 Mei 2020, itupun sudah lama sekali kami menungu di karenakan datanya  lambat diserahkan  Pemkab Aceh Tengah kepada Ama.

Saat ini, pemerintah kabupaten belum melakukan upaya kongkrit, membantu petani. Yang ada hanya tawaran menampung kopi dengan sistem resi gudang.

Skema  dan syarat resi gudang ini sangat berat bagi petani dengan kondisi saat ini Ama, disebabkan adanya jasa bunga, jasa bank itu sebesar 6 persen per tahun.

Seperti kata Ama, kita harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pangan di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19.

Bertepatan di bulan September hingga Desember tahun ini, terjadi kenaikan produksi kopi Ama, di bulan itu adalah panen raya kopi. Saya khawatir kalau panen raya itu malah menyengsarkan Petani.

Namun, Kami berharap kebaikan Ama tidak hanya sekedar blusukan atau pun himbaun, tapi langsung mengena pada hal yang kongkrit.

Ama sudah sering berkunjung kemari, namun sayangnya  kita belum pernah punya waktu untuk bertemu. Karena saya malas kalau ketemu hanya numpang foto dan selfie saja, sepertinya yang lainya.

Terakhir Ama, kami mengharapkan pemimpin yang mampu membersamai kami dalam keadaan sulit ini. Kami, petani selalu merindukan pemimpin seperti itu.

Ama memiliki kuasa untuk meringkan masalah yang  kami hadapi. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Takengon 16 April 2020.[] (Dari anak petani kopi: Maharadi)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here