Beranda ACEH TENGAH

Ratna Sari “ Saya Harus Jadi Hafidz Walau Tanpa Ibu”

BERBAGI

ADA canda ceria dan ada  linangan air mata ketika para santri dayah pelatihan jurnalistik bertemu dengan gadis kelas XII IPA 1 di dayah Darul Mukhlisin, Bur Jimet, Bebesen, Aceh Tengah.

Ada seorang gadis berpakaian pramuka menerima peseerta pelatihan jurnalistik ini. Dia ramah, ceria dan penuh semangat menerima tim. Dia menyebutkan ingin juga belajar menulis dan menekuni dunia wartawan.

Namanya Ratna Sari, berkulit sawo matang, berparas cantik, bersuara lembut, berperawakan sedang. Namun dibalik kecerianya menerima tim, ada linangan air mata di dalamnya.

Ketika tim mewawancarainya, air bening itu tidak mampu ditahanya. Dia terkenang kepada orang yang berjasa yang melahirkanya ke dunia.

Ratna Sari adalah anak pasangan Salam dan almarhumah Kamsiyah. Dia anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya sudah terbilang tua berumur 60 tahun.

Saat Ratna duduk di bangku kelas X SMA, ibunya dipanggil ilahi. Sebagai anak bungsu dia sangat merasa terpukul atas musibah ini, namun sebagai manusi yang sedang menuntut ilmu, dia harus bisa membuktikan, walau tanpa ibu dia harus berhasil.

Kini ayahnya sudah menikah. Ratna Sari punya ibu kembali, walau tidak sama seperti ibunya almahum, namun dia merasa bersyukur, ayahnya yang sudah terbilang tua ada yang menjaga dan merawatnya.

Ratna bisa mengerti ketika ayahnya harus punya teman hidup lagi “Alhamdulilah udah ada yang urus dan menjaga bapak,” sebutnya, sambil tertunduk, air bening dimatanya kembali keluar.

Ditengah ratusan santri yang ceria menerima tim pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah, Ratna Sari tidak lama larut dalam kesedihanya. Dia kembali ceria, berbaur bersama rekan-rekanya.

“Walau saya tanpa ibu, saya ingin membuktikan kasih sayang ibu masih ada dalam jiwa saya. Saya punya keinginan  harus menjadi hafidz qur,an,” sebut yang berusia 15 tahun ini.

Walau kadang kala dia juga sering dibaluti perasaan sedih, khususnya di hari Minggu. Dimana pada hari ini keluarga dari santri yang mondok di Pasantren Darul Mukhlisin ini dikunjungi oleh keluarga. Namun Ratna Sari mengurut dada, walau dia rindu dengan ibunya.

Dia mengakui maklum dengan keadaan ayahnya yang sudah terbilang tua, senantiasa berteman tanah, diantara terik matahari dan hujan. Semuanya dilakukan ayahnya demi dirinya yang kini sedang menuntut ilmu.

Namun, Ratna Sari rasa mengakui rasa rindunya  terobati, ketika kakaknya datang menjenguknya, bisa jadi sepekan sekali atau sebulan dua kali.

Ketekunannya membuahkan hasil, dia termasuk santri yang mampu membaca kitab kuning di pasantren ini. Dia terus mendalaminya, bahkan ada kalanya dia turut membantu juniornya agar mampu membaca kitab kuning.

Dia punya keinginan, cita citanya luhur untuk menjadi Hafids, setelah selesai pendidikan disini, dia berencana akan melanjutkan pendidikan hafidz alquran. Doakan, katanya, semoga Allah mempermudahkanya.

Ratna Sari ingin membuktikan, walau dia kini berjuang tanpa kasih sayang ibu, dia harus menjadi hafidz. Semangatnya mampu mengalahkan keadaan ketika dia rindu dengan ibunya. Karena kasih sayang ibunya tetap ada direlung hatinya. Semoga keinginanya dikabulkan Allah. Amin.[] **Oleh: Juliana

(Penuslis Santri Dayah Al-Azhar Pejeget, Pegasing, peserta pelatihan jurnalistik Dinas Syariat Islam dan Pendidikan dayah Aceh Tengah)

 

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here