Beranda ACEH TENGAH

Perguruan Tapak Suci Bagaikan “Ibu”

BERBAGI

Oleh: Ansari Siregar, MA.

“Dengan iman dan akhlak, saya menjadi kuat tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah”.  Ungkapan ini hampir setiap hari saya sebutkan dalam kurun waktu 1997-2003.

Selain itu tentunya ada Syahadat dan doa sebagai pembuka dan penutup latihan dalam beladiri Tapak Suci. Semua itu saya ucapkan nyaris setiap hari karena harus melatih dan mengembangkan Tapak Suci ke beberapa tempat di Takengon.

Masih segar diingatan saya, sekolah yang pertama sekali saya buka latihan Tapak Suci adalah Pesantren Quba Bebesen. Waktu itu saya masih berusia 18 tahun dan sambil kuliah di STAIS Gajah Putih Takengon.

Seiring dengan berjalannya waktu, sambil mengajar di Quba Bebesen dan Kuliah, saya juga menyempatkan diri untuk membuka cabang baru latihan Tapak Suci di Gajah Putih untuk Mahasiswa dan kemudian menjadi UKM Tapak Suci, cabang SPK Pemda, SMA M 5 dan MAN 2 Takengon.

Pada tahun 2009 siswa pertama dari Quba Sulaiman membuka cabang latihan baru di SMPN 34 Takengon Genting Gerbang, waktu itu saya sedikit sibuk dengan pekerjaan di Kantor Bupati Aceh Tengah.

Lalu kemudian pada tahun 2013, karena saya merasa malu dengan anak didik saya yang sudah mulai aktif, saya pun membuka cabang baru di SMPN 5 Takengon tempat saya mengajar waktu itu, sekarang diteruskan oleh Rendi siswa pertama dari cabang SMA M 5.

Oiya, hampir saja saya lupa bahwa saya pernah hijrah ke Bireuen. Tahun 1999 sampai 2001, saya pindah mengajar di Pondok Pesantren Az Zahrah Beunyot Bireuen dan disitu saya pun membuka latihan Tapak Suci.

Kemudian pada tahun 2015 lahir lagi cabang latihan baru di Pesantren al Azhar Pegasing sampai sekarang masih aktif melatih.

Diusia realatif tua, saya masih bersemangat mendidik dan melatih para siswa Tapak Suci walaupun kadang-kadang saya harus ikut berpanas-panasan dan berhujan-hujanan bersama siswa tapi saya tetap gembira.

Dari perjalanan menimba ilmu di Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah ini, saya menemukan jati diri, makna dari pentingnya sebuah organisasi.

Oleh karena itu saya menganggap bahwa Perguruan Tapak Suci merupakan sebagai “Ibu” dalam olah raga yang saya tekuni.

Layaknya seorang “Ibu”, ketika ia memanggil dan membutuhkan bantuan, maka saya pun harus bergegas dan siap menyahuti untuk membantunya.

Karena bagi saya “Ibu” adalah nomor 1 dan ayah nomor 2. Saya merasa bahwa memang “Ibu” tidak bisa banyak memberikan uang jajan kepada saya tetapi selalu saja ada walaupun hanya sedikit.

Karena sang “Ibu” juga harus menabung untuk kelangsungan hidup saya dikemudian hari kelak.

Sekarang ini cabang latihan Tapak Suci yang aktif sudah ada 10 : cabang SMPN 5, cabang SMPN 34, cabang Pesantren Al Azhar, cabang Pesantren Mi’yarul Ulum, cabang Pesantren Maqamammahmuda, cabang SMAN 1, cabang SMPS 1001, cabang SM IT Cendikia, cabang SMP IT Muhammadiyah dan cabang SDN 3 Bintang.

Patut saya ucapkan Syukur kepada Allah SWT, dan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan, arahan dari Para Pendekar dan Kader senior Tapak Suci Aceh, sehingga Pimda 334 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kabupaten Aceh Tengah dapat terbentuk dan sudah di SK kan oleh PPTS.

Tentunya juga pengorbanan yang banyak dari para kader dan siswa serta rekan-rekan pengurus Pimda 334.

Untuk para kader junior saya dan para siswa senior, saya menantang anda untuk sanggup mengembangkan Tapak Suci sampai kapan pun dan dimana pun.

Sehingga anda patut menunjuk dada bahwa anda Cinta kepada Tapak Suci yang anda anggap sebagai “Ibu” anda dalam olah raga.

Salam Tapak Suci

Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat. Tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.

Ditulis dalam rangka refleksi berdirinya Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Dataran Tinggi Tanoh Gayo, Negeri di atas Awan dan menyambut Pelantikan Pengurus PIMDA 334 TSPM Aceh Tengah.

Takengon, 28 Maret 2021 Tertanda,

Ansari Siregar, MA. Ketua Umum Pimda 334 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kabupaten Aceh Tengah

Periode 2019-2024.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here