Beranda ACEH TENGAH

Majid Agus: “Kegiatan Pelatihan Disparpora Sudah Sesuai Aturan”

BERBAGI

TAKENGEN (LeuserAntara): Kegiatan pelatihan tata kelola parawisata oleh Disparpora Aceh Tengah yang berlangsung  3 – 21 November 2020 telah selesai digelar dan dalam pelaksanaannya tidak ada tujuan “menghamburkan” uang negara.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Disparpora Aceh Tengah, Majid Agus, SE , pemegang nota dinas lantaran sebelumnya kepala dinas di instansi tersebut (Jumadil) dalam kondisi sakit.

“Kegiatan pelatihan tata kelola parawisata ini ada lima Item. Pelaksanaannya sudah sesuai aturan. Sumber dananya dari DOKA dan DAK,” kata Majid Agus, dalam klarifikasi pers kepada LeuserAntara. com, Jum’at (27/11) di Takengen.

Menurutnya, terkait kegiatan pelatihan yang menjadi sorotan publik karena pelaksanakan diakhir tahun, hal itu lantaran kondisi global dan situasi di daerah dilanda Covid-19.

“Jadi, tidak ada yang disengaja karena anggarannya-pun tersedia untuk itu dan kegiatannya harus dikerjakan sebab sudah terkoneksi dengan aplikasi. Perlu juga diketahui jika  program ini tidak dikerjakan, maka, tahun depan kegiatannya tidak akan ada lagi. Ini tentunya merugikan daerah,” jelasnya.

“Ada rumor tak sedap ketika kegiatan ini dilaksanakan di akhir tahun. Kesan yang muncul jadi liar. Padahal, penundaan kegiatan karena situasi corona dan harus ada izin dari tim Satgas Aceh Tengah dan seharusnya sudah terlaksana pada Agustus 2020 lalu,” ungkapnya.

Sementara, mengenai keberangkatan tim funtrifs oleh Disparpora Aceh Tengah ke Karawang, Jabar merupakan bagian dari salah satu rangkaian kegiatan pelatihan tata kelola parawisata.

“Peserta yang kami bawa untuk funtrifs selain ke Karawang juga ke Lembang.Tujuan utama dari kegiatan tersebut guna pengembangan ilmu  tentang  pengelolaan parawisata yang diperoleh untuk selanjutnya diaplikasikan di daerah ini (Aceh Tengah-red),” jelas Majid.

“Kami juga melakukan upaya membangun kerjasama dengan Kabupaten Karawang. Setiap obyek wisata yang ditinjau termasuk di Lembang, Bandung, yakni tentang konservasi hutan termasuk pengelolaan air terjun. Dimana, nantinya akan kita upayakan bisa diterapkan di sini. Apalagi secara letak kondisi geografis, daerah Jabar memiliki kesamaan dengan Aceh Tengah,” lanjutnya.

Ditambahkan, dari kunjungan ke luar daerah ini juga diperoleh konsep metode pengembangan parawisata yang ke depannya akan disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

“Di sana setiap pengunjung suatu objek wisata dikenakan asuransi yang include dalam satu tiket. Lain itu, lokasi objek wisatanya sangat terjamin kenyamanan pengunjung dan keasrian alamnya. Nah pola seperti ini kami kira penting diterapkan di lokasi wisata di daerah ini.”

“Tentu, ini akan menjadi PR bagi kami karena harus dibuat suatu qanun yang nantinya diajukan ke dewan guna mendukung sistem pengelolaaan parawisata dengan baik. Sehingga PAD bisa meningkat dari sektor parawisata,” ucap Majid.

Ditanya soal pembayaran biaya hotel peserta pelatihan? Majid menjelaskan, pihak panitia kegiatan telah membayar sesuai peruntukannya. “Kegiatan pelatihannya tiga hari. Jadi kami tetap membayar dua malam. Itu juga belum menggunakan uang negara karena SPJ-nya belum selesai,” sebutnya.

Diakhir wawancara, Majid berharap, melalui rangkaian kegiatan pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh Disparpora Aceh Tengah, mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) tentang tata kelola parawisata serta keberadaannya bisa memacu pertumbuhan income Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten penghasil kopi arabika ini.[] (Ir/rn)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here