Beranda BENER MERIAH

Kisah Dailami: Dari Pendayung Becak Sampai Jadi Wakil Bupati

BERBAGI

SIAPA nyana, seorang penarik becak yang  berjibaku dengan kerasnya kehidupan dunia terminal di Kota Medan, bisa menjadi  wakil bupati di Dataran Tinggi Gayo Bener Meriah.

Namun begitulah ketika Maha Kuasa berkehendak, apa yang tak mungkin bisa saja terjadi. Sosok yang beberapa tahun lalu mungkin bukanlah siapa-siapa, kini bisa menduduki jabatan penting di daerah “Merapi”  Provinsi Aceh.

Adalah Dailami, pria asal Kenawat Redelong, Bener Meriah, kelahiran 1974 ini merupakan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang terpilih menjadi wakil Bupati Abuya Syarkawi di sisa masa jabatan 2017-2022.

Dalam perbincangannya dengan penulis, baru-baru ini di suatu caffe di sekitar Bandara Rembele, ia mengisahkan sepenggal pengalamannya. Mulai dari masyarakat awam, terlibat GAM, menjadi tukang becak, buronan politik hingga sampai Wakil Bupati Bener Meriah terpilih dalam sidang Paripurna yang digelar DPRK, 14 Januari 2021.

“Saat konflik Aceh berkecamuk saya pernah tertembak di bagian dada sebelah kiri. Sedang istri, terkena peluru di bagian perut hingga tembus ke belakang. Namun itu cerita dulu, dan alhamdulillah, kami masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk beramal dan sekarang konflik GAM-RI sudah berakhir damai melalui perundingan di Helsinki.”

“Kini tinggal bagaimana kita melanjutkan cita-cita para suhada yang syahid dalam perjuangan untuk mengisi pembangunan di segala sektor. Saya berharap melalui kepercayaan yang diberikan rakyat Bener Meriah, ke depannya mampu menyumbangkan tenaga dan pemikiran dalam menunjang kesejahteraan masyarakat,” kata suami Suryati ini.

Apa benar ia pernah berprofesi penarik becak? Menurut anak dari pasangan almarhum Fuadi Aman Tan dan Sri Jemat Inen Tan ini, hal itu benar adanya. Ia terpaksa menjadi tukang becak di Medan dalam pelariannya dari Aceh sebagai buronan masa konflik.

“Saat itu ruang gerak terbatas, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, saya terpaksa jadi tukang becak di Kota Medan. Kehidupan di sana keras. Tantangan banyak dan hidup pas-pasan. Penghasilan kami jauh dari cukup, hanya Rp50 ribu perhari, belum termasuk harus bayar sewa becak. Tapi itulah hidup, semua ada hikmahnya,” sebut pria berciri khas berkepala pelontos ini.

Diujung wawancara ia mengutarakan, pengalaman yang telah dilalui merupakan proses pendewasaan dalam mengarungi “gelombang” perjalanan hidup yang berliku. Lain itu, kader partai Golkar ini berpesan, hendaknya setiap generasi muda  bisa lebih termotifasi, gigih berjuang dalam mencapai suatu cita-cita guna mengisi pembangunan daerah, meski nantinya akan diwarnai beragam rintangan yang mungkin datang menghadang.[]**Oleh: Irwandi MN

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here