Beranda ACEH TENGAH

Bahtiar Sosok Wartawan Gayo Mencari Penerus

BERBAGI

UMURNYA sudah terbilang tua, rambut yang sudah memutih. Keriput di wajahnya sudah kelihatan. Namun semangatnya dalam menulis mampu mengalahkan yang muda. Tulisanya menarik, berbobot dan menjadi refrerensi.

Tulisanya pedas, namun ada kalanya melankolis, mendayu dayu, apalagi ketika menulis soal romantika kehidupan. Di gayo dia dikenal sebagai wartawan senior, menjadi panutan, karena karakteristiknya.

Kini dia berharap semakin banyak generasi di tanah kelahiranya yang mahir menulis dan menjadi wartawan. Hal itu terungkap ketika dilangsukan pelatihan jurnalistik untuk santri dayah yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah, di Oro Kopi, Mongal, Bebesen, Minggu pertama November 2020.

Para santri dayah mendapat kesempatan untuk menggali siapa sebenarnya Bahtiar Gayo, wartawan senior yang sudah banyak menuangkan karya di dunia jurnalistik. Dalam wawancaranya dengan santri Dayah, terungkap sosok wartawan ini sudah teruji kemampuanya.

Namun Bahtiar Gayo merendah, ketika santri bertanya kepada. “Apa kelebihan saya, sehingga kalian meminta keterangan dari saya dan ingin menggali siapa saya,” sebut lelaki yang memiliki kumis dan jenggot berwarna putih ini.

Namun para santri tidak menyerah dengan pernyataan itu. Terungkaplah siapa lelaki yang sudah menekuni dunia pers sejak tahun 1990 ini. Dia ditempa dan mengabdi sebagai wartawan Waspada, hingga dua tahun terahir dia dipercayakan sebagai penanggungjawab Dialeksis.com.

Peserta pelatihan jurnalistik dibuatnya terkejut, ketika dia menceritakan pengalamanya. Semasa konflik Aceh, dia satu satunya wartawan di Gayo yang melanglang buana dalam amukan konflik. Dia pernah ditangkap oleh pihak bertikai, baik aparat kesatuan NKRI dan GAM. Namun setelah mengetahui identitasnya dia dibebaskan.

Saat itu, sebutnya, jaringan komunikasi susah. Ketika dia di lapangan, sangat sulit diketahui dia berada di mana, termasuk oleh keluarganya yang ditinggalkan di rumah. Suka dukanya menjadi wartawan dia ceritakan kepada para santri dayah yang menimba ilmu jurnalistik.

Bahkan dia pernah punya pengalaman mengirimkan berita dari Takengon menuju Biruen, ketika itu faksimal di Takengon rusak, sementara beritanya penting, tentang penangkapan Tengku Bantaqiyah di Buetong.

Dalam hujan dengan mengendarai sepeda motor dia mengirim berita ke redaksi waspada melalui Telkom di Biruen. Jarak Takengon Bireun mencapai 101 kilometer, ketika itu jalanya tidak semulus sekarang.

“Ketika berita itu penting, sebagai wartawan ya kita harus mencari jalan agar berita itu sampai ke redaksi,” sebut lelaki yang juga punya hobi main catur serta bertani kopi ini.

Apakah ketika konflik, ada rasa takut saat meliput? Tanya Santri dayah. “ Sebagai manusia normal pasti  ada  rasa takut. Namun saya punya Tuhan yang menakdirkan perjalanan hidup dan mati manusia,” sebutnya.

Saat itu, kata Bahtiar, dia berdoa ke Ilahi. “Ya Rabbi, bila sisa umurku masih bermanfaat dan tidak menyusahkan mahlukmu, maka panjangkan umur. Namun sekiranya umurku membuat susah mahlukmu, maka aku ihlas engkau mempersingkat umurku”.

Bahkan kepada istrinya, Arwani Harfa, wartawan ini sudah menitip pesan. Kalau umurnya singkat, termakan amukan konflik, maka ibu dari anak-anak Bahtiar harus mendidiknya dengan baik, dia harus menjadi ibu sekaligus menjadi ayah.

Pengakuan Bahtiar, ketika dia menyampaikan amanat ini, istrinya menangis. Namun wartawan yang juga hobi bertengkeh Gayo ini menguatkan hati teman hidupnya, agar menyerahkan segala persoalan atas kehendak Tuhan.

Pengalamanya pada masa konflik Aceh menjadi catatan sejarah, Gayo punya wartawan konflik yang kini sudah beranjak tua.

Kepada para santri dayah yang sedang mengikuti pelatihan jurnalistik, Bahtiar menaruh harapan, kiranya kelak bermunculan penulis dan wartawan handal di Gayo. Wartawan yang mengedepankan hati, berahlaq dalam melihat persoalan.

Bagi santri dayah yang mengikuti pelatihan jurnalistik, Bahtiar Gayo adalah wartawan idola dengan karakternya dan pengalamanya. Apalagi wartawan kompeten utama ini mengajari santri ilmu jurnalistik straignews dan feature.

Semoga semakin lahir generasi penerusnya di bumi penghasil kopi terbaik dunia dengan aroma yang khas ini.[]** Penulis; Nisara Ate (Peserta latihan jurnalistik dayah Aceh Tengah, santri Darul Mukhlisin)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here