Beranda ACEH TENGAH Zam-Zam: SBY Diharap Jangan Hadir Pada Acara PKA

Zam-Zam: SBY Diharap Jangan Hadir Pada Acara PKA

BERBAGI
Foto: Zam-Zam Mubarak.(LeuserAntara.com)
Foto: Zam-Zam Mubarak.(LeuserAntara.com)
Foto: Zam-Zam Mubarak.(LeuserAntara.com)

TAKENGEN |LeuserAntara| Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diharapkan, tidak menghadiri pembukaan acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), yang tak lama lagi akan digelar di ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh.

Diduga banyak “jebakan” atau trik politik yang dimainkan oleh para petinggi-petinggi Aceh, dari kelompok tertentu untuk melegalkan cita-cita mereka yang tertunda selama ini dengan kehadiran SBY.

Demikian sebut Zam-Zam Mubarak, mantan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta ini, kepada Leuser Antara via selulernya, Minggu (1/8/2013) seraya menyatakan.” Mereka bisa mempropagandakan kepada halayak, seolah-olah dengan hadirnya Sby ke Aceh, Wali Naggroe telah diterima semua rakyat Aceh, mereka juga bisa menjual bahwa bendera dan lambang Aceh tak lama lagi akan disahkan ,” ungkapnya.

Dikatakan Zam-Zam, trik seperti ini adalah cara yang sudah basi dan terbaca oleh semua orang.” Kemudian pemberian gelar DR HC bisa dibilang kental muatan politisnya, karena diseting diberikan menjelang diselenggarakannya pesta demokrasi 2014, pemilu legislatif maupun pemilihan presiden ,” sebutnya.

Penolakan atas rencana pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Wali Nanggroe Malek Mahmud paling keras disuarakan oleh kalangan aktivis di wilayah Aceh Leuser Antara (ALA), sedangkan aktivis dan pejuang dunia pendidikan di wilayah pesisir sama sekali tak bersuara.

Secara tegas Waladan, Aramiko dan Zam-Zam menyatakan tidak setuju dan tidak berhak Malek Mahmud mendapat gelar Honoris Causa dari Unsyiah.

” Saya menolak sekeras-kerasnya rencana pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Wali Nanggroe. Bagi saya, tidak ada sumbangsih keilmuannya bagi Aceh. Juga, ini hanya mengakibatkan cacat politik terhadap independensi Unsyiah, publik akan bertanya-tanya apakah Unsyiah sebagai institusi pendukung Wali Naggroe dan perangkatnya ? , ” tandas Zam-Zam.

” Kalau tak ada kaitan ilmu, kenapa mantan Gubernur dan tokoh perdamaian Aceh lain tak diberikan gelar yang sama dari Unsyiah? Nama besar Unsyiah akan hancur dengan petualangan politik ini ,” tanya Zam-Zam.

Dia mencontohkan, Bung Karno dapat gelar HC dari ITB karena sumbangan keilmuan tekhnik sipil, latarnya memang tekhnik sipil dari ITB. Almarhum Dr Hamka atau Buya Hamka dapat gelar HC dari Universitas Al Azhar Mesir, karena ilmu agamanya dan tafsir Al Azharnya yang terkenal.

“ Jadi, rencana pemberian gelar tersebut kepada Wali Nanggroe hanya akan memberi cacat saja pada Unsyiah, secara politik. Saya juga jadi malu jika nama besar Bung Karno dan Buya Hamka, serta SBY yang juga dapat gelar DR HC disejajarkan dengan Malek Mahmud yang belum jelas sumbangsihnya dan status kewarga negaraannya tersebut,” tegas Zam-Zam.(tim)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here