Foto: Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM ketika memberi sambutan pada pembukaan Gebyar Seni Daerah, sabtu (12/12) malam.

Seniman Gayo Hibur Warga Takengen

TAKENGEN |LeuserAntara| Sederet seniman Gayo menghibur warga Takengon Kabupaten Aceh Tengah dalam acara bertajuk Gebyar Seni Daerah, Sabtu (12/12) malam.

Mendengar tembang-tembang lawas nan populer sempat membuat heboh diiringi sorak sorai lebih dari 500 penonton yang memadati Kompleks Umah Pitu Ruang Kampung Kemili Kecamatan Bebesen.

Para seniman yang membuat “kangen” warga Takengon ini tampil satu persatu mulai dari Kandar, Ramlah, Win Kul, Zuhra, Evan Ceh Kul, Salman, Bina Bintang Pitu, Suryani dan Onot Kemara.

Kegiatan yang didukung penuh oleh Dinas Budparpora Kabupaten Aceh Tengah tersebut merupakan event tahunan yang sifatnya silaturrahmi dan hiburan rakyat.

Kepala Dinas Budparpora Aceh Tengah, Subhan Sahara mengatakan selain ajang silaturrahmi, momen gebyar seni menjadi wadah bagi seniman Gayo untuk berekspresi.

“Gebyar seni ini sifatnya hiburan rakyat, bukan perlombaan, nanti akan upayakan intensitasnya dapat lebih sering sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah dalam mengembangkan dan melestarikan seni budaya,” kata Subhan disela acara.

Upaya untuk menjaga dan melestarikan seni dan budaya Gayo juga menjadi penekanan Bupati Aceh, Ir. H. Nasaruddin, MM, ketika memberikan sambutan pada acara tersebut’

“Perlu diingat, generasi pendahulu tidak sedikit pun bermaksud mengembangkan seni untuk merusak adat atau budaya, karena itu bagi masyarakat pemilik seni ini agar bersama menjaga, jangan dalam proses penampilan seni justru muncul efek-efek negatif,” ujarnya.

Berikutnya, para pencipta seni tak luput dari sorotan Nasarudin agar berkreasi dan menciptakan karya-karya monumental sehingga bisa dinikmati oleh berbagai kalangan dalam waktu yang lama.

Nasaruddin mencontohkan banyak karya seni yang diciptakan sudah lama, tapi karya seni itu masih bisa dinikmati hari ini dan masa yang akan datang.

“Mari kita lestarikan seni dan budaya yang berkembang, bukan untuk merusak orang lain, sehingga seni itu ditafsirkan sesuatu yang negatif, seni tidak pernah negatif, hanya menjalankannya kadang dibumbui dengan hal-hal yang negatif,” jelas Nasaruddin.(M)

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*