Beranda GAYO LUES Sejarah Perang Gemuyang Masyarakat Gayo Lues Melawan Belanda

Sejarah Perang Gemuyang Masyarakat Gayo Lues Melawan Belanda

BERBAGI

Blangkejeren (LeuserAntara): Menurut catatan penulis Belanda yang juga ajudan Overste Van Daalen Lettu JCJ Kempes, Ternyata pasukan Belanda pernah gagal menerobos Gayo Lues dalam upaya menaklukkan Aceh dalam peperangan yang berlangsung dari tahun 1873 – 1905.

Pada Tahun 1898 Belanda memulai penyerangan dari pantai timur Aceh Kuala Simpang. Dalam pertempuran yang di kenal dengan Perang Tingkem gugur Srikandi Gayo Lues Inen Mayak Tri dalam mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.

Kemudian pada tahun 1901 pasukan Belanda di bawah Pimpinan Mayor Van Daalen mencoba lagi menerobos dari arah Aceh Utara lewat Aceh Tengah.

Usaha ini juga gagal bahkan salah seorang pimpinan tewas dicincang pejuang-pejuang Gayo Lues dalam Perang Rerohan, meskipun dalam perang ini pihak pihak pejuang juga gugur beberapa orang.

Akhirnya pasukan Van Daalen kembali ke markasbya di Kutaraja lewat Betung Aceh Barat. Beberapa tahun kemudian persisnya 9 Februari 1904 Overste Van Daalen untuk keduakalinya melakukan serangan ke Gayo Lues melalui hutan belantara Aceh Tengah Jagong Jaget terus ke kela Terangun.

Sedangkan dari arah Timur juga Belanda kembali melakukan serangan. Di kampung Kela memang tidak terjadi pertempuran, Akan tetapi dalam pertempuran di kampung Pasir tanggal 14 Maret 1904 terjadi peperangan yang menewaskan 41 pejuang Gayo Lues.

Sedangkan pasukan Belanda hanya 6 orang saja yang terluka. Selanjutnya selama tiga tepatnya dari tanggal 18 s.d 20 April 1904 terjadi Perang Gemuyang.

Gemuyang disebut Benteng yang di bangun pejuang-pejuang Gayo Lues sebagai basis pertahanan dari serangan musuh.

Benteng ini berlokasi di lereng gunung dekat Kampung Peparik Gaib, Kecamatan Belang Jerango yang di perkirakan tidak jauh darimarkas Kompi Brimob sekarang.

Menurut ukuran pada masa itu Benteng Gemuyang adalah benteng yang terkuat dan yang di kawal oleh pejuang laki-laki dan perempuan serta orang Dewasa.

Dalam pertempuran merebut benteng ini, pejuang Gayo terbanyak gugur selain dari yang dapat meloloskan diri, setelah perang Pining – Tingkem.

Menurut catatan Kempees yang telah dibukukan jumlah korban tewas dalam perang Gemuyang, pihak pejuang laki-laki 160 orang, perempuan dan anak-anak 140 orang, sedangkan pihak Belanda hanya 2 orang yang tewas dan 15 orang yang luka-luka.

Tentu saja hal ini di sebabkan peralatan perang yang tidak seimbang, karena pasukan Belanda memiliki Senjata Api sedangkan pejuang Gayo hanya mengandalkan semangat Jihad dan senjata Tradisional berupa kekercetan (semprotan) air cabe, Ali-Ali, Semburan Api, Tombak bambu dan pedang.

Akhirnya tanggal 3 Juni 1904 seluruh Gayo Lues berhasil diduduki Belanda, kemudian Van Daalen menerobos Tanah Alas (Aceh Tenggara).

Pada tahun 1905 Gayo Lues dan Tanah Alas berhasil diduduki oleh Belanda yang menandai berakhirnya perang di Aceh serta Aceh menjadi Daerah jajahan Belanda.

Akan tetapi pada Hakikatnya perlawanan dari pejuang Gayo Lues dari generasi ke generasi terusnya berlanjut secara bergrilya dengan sebutan Selimin hingga penduduk serdadu Jepang Tahun 1942.

Sebagai akibat perang Gayo Lues jauh tertinggal terutama dalam bidang Pendidikan, Karena baru Tahun 1916 pemerintah Belanda mendirikan sekolah di Belangkejeren, Kutapanjang, Rikit Gaib, Terangun dan Pining (Pendeng)yang di beri nama Sekolah Desa (hanya sampai kelas lll), dan beberapa tahun kemudian disusul dengan sekolah sambungan atau sekolah Gubernemen di Kota Belangkejeren.

Kini negeri ini telah merdeka, maka sudah sepantasnyalah kita mendoakan agar para pejuang Syuhada yang gugur dalam perintis kemerdekaan dan perang mempertahankan kemerdekaan dan sehingga mendapat tempat yang layak serta di ampuni segala dosa yang di perbuatnya oleh Allah Swt. Aamin!!!

Selanjutnya kita yang hidup saat ini dan menikmati hasil perjuangan itu kiranyaterus bekerja keras sesuai dengan profesi masing-masing, mengisi kemerdekaan ini, agar kita semua bisa membangun negeri ini dengan semangat persatuan dan kesatuan tanpa saling salah menyalahkan.

Terkutuklah mereka yang telah menodai perjuangan pendahulu-pebdahulu kita dengan bentuk perbuatan maksiat dan tidak terpuji seperti menerima suap dan Kropsi memperkaya diri sampai tujuh keturunan.

Mudah-mudahan seringnya kita membuka lembaran sejarah pejuang bangsa, akan menambah kecintaan kita pada Negri Seribu Bukit yang kita diami saat ini khususnya dan Indonesia pada umumnya. (Teuku Ramli)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here