Beranda ACEH TENGAH SARA Picu Kri(t)sis Identitas Sosial

SARA Picu Kri(t)sis Identitas Sosial

BERBAGI
BEBERAPA pekan terakhir, ada dua kejadian menarik yang menyita perhatian netizen melalui media sosial, yakni pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika “Donald Trump” atas pengakuannya, Yarusalem sebagai ibu kota Negara Israel dan terkait “Hymne Aceh’ yang kini menjadi pebincangan hangat di masyarakat pasca telah diumumkannya pemenang sayembara Hymne Aceh di Provinsi Aceh.

Kedua kejadian tersebut, tentunya kita sudah sama sama tahu permasalahannya dan tak akan dibahas dalam tulisan ini lebih lanjut, namun dapat dipahami bahwa pristiwa ini memberikan banyak pelajaran bagi kita sebagai warga masyarakat.

Deretan catatan sejarah telah memberikan pelajaran berharga, bahwa realitanya permasalahan yang berkaitan erat dengan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) harus ditanggapi dengan serius dan diselesaikan dengan sangat hati hati melalui sebuah kebijakan yang tegas.

Apabila sedikit saja ada kekerasan ataupun kebijakan yang berlabel SARA, maka dengan fasilias media yang canggih saat ini informasinya dengan mudah dan begitu cepatnya menyebar kepada masyarakat yang menimbulkan riak riak baru pemicu konflik yang berkepanjangan, dengan taruhannya akan berdampak pada disintegrasi sosial.

Selanjutnya, efek yang akan timbul ialah terganggunya stabilitas daerah dan negara baik dari segi politik, sosial dan budaya. Pristiwa ini akan sangat cepat menjadi trending topic yang meramaikan jejaring social media dengan sasaran utamannya adalah kita sendiri sebagai masyarakat yang secara jujur menunggu bagaimana kelanjutannya dari sebuah pristiwa dan berharap tidak akan terjadi hal hal yang bersifat negatif dalam pergaulan social masyarakat akibat dari kedua pristiwa diatas.

Begitu sensitifnya konflik yang dipicu akibat SARA, sehingga oleh pihak pihak tertentu memanfaatkan moment tersebut dengan mudah untuk membentuk dan mengarahkan pada hal hal yang negatif dan merusak tali persaudaran dalam lingkup identitas social.

Ketika hal ini mulai diarahkan maka akan menyebabkan kekaburan sikap , konsep dan ketidakjelasan identitas diri di komunitas social dan menjadi awal dari terdegradasinya kualitas identitas social.

Hal inilah yang dimaksud  dengan krisis identitas social yang sangat berpengaruh pada pola pandangan  dan komunikasi masyarakat. Ukuran kebenaran menjadi relative, keadilan menjadi mudah untuk dibeli dan semuanya menjadi tidak jelas. Sehingga persatuan yang dibangun pun menjadi pudar dan hubungan antar sesame menjadi renggang.

Lunturnya kebanggaan terhadap apa yang dimiliki dalam negeri dan daerah sendiri menjadi tanda identitas social berada pada kata “krisis”. Tampak begitu jelas yang kita lihat saat ini dimana hal hal yang berbau kekinian ala luar negeri begitu cepat diterima sekaligus dikagumi, seolah olah apapun produk dan gaya hidup yang berlabel  dari luar negeri adalah terbaik dan patut diikuti.

Tak hanya itu, minimnya tokoh panutan saat ini menjadi penyebab krisis identitas social, kita dapat melihat sendiri saat ini hanya sedikit tokoh yang dapat dijadikan panutan masyarakat selebihnya bila diamati cenderung menunjukan sikap mementingkan kepentingan pribadi dan golongan yang dibumbui dengan budaya korupsi di antara pemimpin negeri ini.

Betapa miris dan meperhatikan memang bila kita melihat kondisi krisis identitas sosial pada masyarakat kita, bila hal ini terus berlanjut maka akan berdampak pada kaburnya idenititas kita sendiri. Kita harus segera kembali kepada jati diri bangsa ini, jati diri sendiri, karena kalau bukan kita yang mengawal keberagaman dalam balutan kebersamaan untuk mencintai negeri sendiri siapa lagi?

Meskipun dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki akan mengarah pada hal positif bila kita seluruh warga masyarakat turut mengawasi dan bertanggung jawab untuk mengembangkan nilai nilai petingnya identitas sosial di era globalisasi ini.[] oleh: Najla Karanesa. Penulis mahasiswi aktif di STAIN Gajah Putih Takengen, jurusan Ushuluddin dan Dakwah.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here