Beranda ACEH TENGAH Sagi Indah “Bertabur” Kasus Dana Desa Fiktif?

Sagi Indah “Bertabur” Kasus Dana Desa Fiktif?

BERBAGI

Takengen (LeuserAntara) : Kasus pemanfaatan dana desa tahun 2016-2017 di Kp. Wih Sagi Indah, Kec. Silih Nara, Aceh Tengah mencuat kepermukaan. Diduga realisasi penggunaan dana usulan perencanaan pembangunan dan kegiatan kampung syarat penyelewengan anggaran dan berbau fiktif.

Hal itu diutarakan Jalalluddin warga Kp. Wih Sagi Indah didampingi sejumlah perwakilan masyarakat setempat, kepada LeuserAntara. com, Selasa (26/6) di Takengen.

Menurut Jalaluddin, selaku Reje Kampung Wih Sagi Indah, Muhsin dan “kroni”  telah menggunakan kekuasaannya, mengelapkan sebagian besar dana desa yang tidak sesuai peruntukannya dengan bukti otentik usulan pembangunan fisik bangunan maupun agenda kegiatan kampung.

“Mayoritas  bentuk fisik pembangunan desa fiktif. Tidak sesuai dengan usulan dalam dokumen  qanun kampung tahun 2016-2017. Lain itu, telah terjadi pemalsuan tandatangan absen hadir sebagian warga dalam musyawarah perencanaan penggunaan APBK karena banyak yang tidak datang,” ungkapnya.

Masih dalam keterangan persnya, Jalalluddin juga menyerahkan sejumlah data bukti kejanggalan realisasi dana desa fiktif di Kp. Wih Sagi Indah, dalam data copy-an dokumen rencana anggaran biaya tahun 2016-2017 sebanyak dua rangkap.

Dokomen tersebut berstempel dan ditandatangani oleh; Muhsin (reje), Zamzam (TPPKK-Kec. Silih Nara) dan pemeriksa atas nama; Drs. Syafruddin Cibro (2017), Nurhayati SP (2016-2017), Husna (2016-2017) dan Mahyuddin, AR (2017).

“Realisasi dana desa di kampung kami sebagian besar fiktip. Contohnya ini (menunjuk dokumen 2017-red) ada biaya pembangunan jembatan di Pelunin. Tapi jembatannya hingga kini tak ada. Kemudian, jalan terobos serta lanjutan pembangunan jalan perkebunan di Pelunin dengan volume 600 meter, biaya Rp126.600.000, juga belum jelas,” ucapnya.

Kasus berikutnya, lanjut dia, pembangunan Gedung Serba Guna 2016 dengan rencana usulan Rp. 195.000.0000 “berbau fiktip”,  kemudian jalan terobos ke perkuburan umum sepanjang 300 meter beranggaran Rp. 46.391.000, volumenya tidak cukup.  Dilanjut pembangunan rabat beton 2016 di tempat sama beranggaran Rp92.002.000, dengan volume 600 meter.

“Namun jalan  mana yang dirapat beton? Anehnya lagi di qanun ini ada rencana pembangunan jalan lingkungan Sagi Indah, tapi dibangun di Kp. Wihni Bakong. Apa bisa demikian?” ujar Jalaluddin.

*Terindiksi Kegiatan Fiktif

Masih dikesempatan sama, mantan reje dan perwakilan masyarakat Wih Sagi Indah ini menambahkan, temuan kasus lainnya yakni tidak adanya realisasi kegiatan Tata Boga 2016 beranggaran Rp11.106.204. Seterusnya, kegiatan pendidikan bahasa inggris untuk anak-anak Rp12.600.000 dengan jumlah guru 24 orang.

“Dana pengajian untuk anak-anak juga menguap dan tidak jelas. Usulan dananya Rp6.270. 000, untuk 24 guru gaji selama satu tahun (2016). Namun hanya 1 orang (imam kampung)  yang menerima. Angkanya Rp1.800.000,” sebutnya.

Ditambahkan,  selain itu sejumlah persoalan kasus lainnya seperti pengerjaan jalan lingkungan beranggaran puluhan juta rupiah saat ini kerap menjadi pertanyaan di tengah masyarakat. “Kami juga sudah melaporkan kasus ini ke Komisi A DPRK Aceh Tengah. Kami harap semuanya dapat diusut sehingga tidak ada lagi keraguan ditengah masyarakat terkait penggunaan dana desa,” ringkasnya.

*”Itu Fitnah” Reje Sagi Indah Bantah Keras Dana Desa Fiktif

Terpisah Reje Kp. Wih Sagi Indah, Muhsin ketika dikonfirmasi terpisah, Rabu (27/6) via celularnya membantah keras setiap “tudingan”  yang disampaikan Jalalludin dan warga terkait dugaan dana fiktif pelaksanaan program dana desa di tahun 2016-2017.

“Itu (laporan Jalaluddin – red)  fitnah. Tidak mungkin begitu banyak program desa yang tidak jelas. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya temuan apapun dari tim pengawas kegiatan maupun dari inspektorat kabupaten tentang pelaksanaan kegiatan dana desa,” jelas Muhsin.

Ditambahkan, sejauh ini setiap pelaksanaan kegiatan selain menggunakan plang nama, juga pihaknya melibatkan masyarakat kampung dalam pengerjaan secara swadaya. Artinya,  tidak ada usulan perencanaan kegiatan desa Kp. Wih Sagi Indah yang dilaksanakan di luar ketidakwajaran.

“Sekali lagi apa yang disampaikan Jalaluddin itu fitnah. Dia tidak pernah ikut rapat kampung. Jadi mana mungkin ia memahami bagaimana sebenarnya proses pelaksanaan setiap usulan program kegiatan dan realisasi dana desa di sini,” paparnya.

Ditanya soal dugaan tandatangan palsu dalam berkas daftar hadir musyawarah perencanaan kampung, reje Wih Sagi Indah ini menyebutkan, hal tersebut bisa saja terjadi, lantaran warga di sana tinggal di perkampungan.

“Dapat dimaklumi namanya warga kampung, kalau menandatangani bisa saja sepuluh kali meneken berkas, sepuluh kali beda tandatangannya,” ucap Muhsin.

Sedangkan mengenai jembatan dia menjelaskan, dalam pembangunannya tidak harus seperti “itu”. Pembangunan jembatan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan.

“Jadi termasuk pembangunan jalan lingkungan yang katanya ada dibangun di Wihni Bakong, itu kan pelaksanaannya di perbatasan melalui kerja sama antar kampung. Yang tujuannya tentu siapa saja dapat memanfaatkannya. Dari itu saya tegaskan apa yang disampaikan oleh saudara Jalalludin semuanya fitnah,” tukasnya. [] (Laporan:Irwandi MN)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here