Beranda ACEH TENGAH

Pesan AR Moese “Dalam” Balutan Cerutu Asal Kayukul

BERBAGI

“Engon ko so tanoh Gayo….Simegah mu reta dele…. Rum batang nuyen si ijo…. Kupi bako e….” (Lihatlah tanoh Gayo. Yang megah berharta banyak. Bersama  batang pinus yang menghijau. Kaya akan kopi dan tembakau).

Demikian kutipan lirik lagu Tawar Sedenge, karya AR Moese (Alm), Seniman maestro Gayo yang begitu fenomenal. Lagu ini telah menjadi lagu wajib daerah di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah.

Menyimak petikan lirik lagu ini, ada pesan mendalam yang diamanatkan sang pengarang, bahwa bumi  Gayo ini memiliki kekayaan alam yang diberikan Allah SWT bagi kemakmuran rakyat di sana. Bukan saja pinus (getah), namun kopi dan tembakau.

Merunut kisah yang dirilis AR Moese sejak puluhan tahun lalu dalam karya seninya, bisa jadi ia telah mempridiksi bahwa pinus, kopi dan tembakau adalah kekayaan alam Gayo yang harus terus dijaga untuk keberlangsungan hidup rakyat di tanah “surga” ini.

Faktanya, dari era dulu hingga sekarang tiga varietas hasil bumi Gayo ini telah menjadi sumber utama penyokong ekonomi mayoritas warga secara turun temurun. Terutama komoditi  kopi arabika dan pinus gayo.

Bercerita pinus, keberadaan-nya selama ini selain telah dijadikan bahan kayu olahan (papan), juga produksi getahnya sudah go internasional. Begitu pula dengan kopi arabika gayo atau jenis robusta, tanaman perdu ini bukan saja sangat dikenal konsumen lokal, namun keberadaannya telah mampu menembus pasar dunia.

Sementara bagaimana dengan tembakau bumi Gayo? Tanaman satu ini, meski budidayanya tak pernah lekang  dari kehidupan sebagian petani, tapi pamornya belum sampai setenar kopi maupun getah pinus di mata pelaku niaga mancanegara.

Kini seiring berjalannya waktu, guna menjawab “pesan” AR Moese khususnya tentang tembakau, secercah peluang itu mulai mencuat kepermukaan. Tembakau gayo yang sebelumnya banyak beredar dalam bentuk rajangan kini mulai dikemas dalam balutan cerutu. Tentu ada nilai tambah ekonomi di sini bagi masyarakat bila produk ini bisa dikembangkan sebagaimana kopi dan pinus.

*Inovasi Tembakau Gayo

Dimulai dari Kampung Kayukul di Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, usaha tembakau gayo ini mulai mendapat babak baru dalam upaya mendongkrak keunggulannya di mata dunia. Peluang tersebut dimanfaatkan seorang warga di daerah wisata kuliner itu dengan melahirkan karya inovasinya untuk membuat cerutu layak jual.

“Mungkin membuat cerutu bukan hal baru. Namun saat ini dunia perlu tahu, selain kopi-pinus, daerah kita ini juga memiliki tembakau yang sangat bermutu dan kini sudah dikemas dalam bentuk cerutu,” papar Salmi peracik cerutu gayo dalam perbincangannya dengan penulis baru-baru ini di rumah produksi cigar miliknya.

Cerutu bermerk “Gayo Mountain Cigar”dibuat Salmi secara manual menggunakan  bahan baku daun tembakau murni pilihan dengan aroma khas iklim pegunungan. Lain itu, citarasa rokok jumbo  ini sangat beragam ketika tersentuh indra perasa. Ada aroma; mint, harum manis, sedikit pedas dan lainnya.

“Kekayaan citarasa pada tembakau gayo ini selain disebabkan adanya perbedaan ketinggian area tanam juga dipengaruhi iklim pegunungan dan beragam jenis rerumputan yang berada disekitar tumbuhan tembakau ,” ungkapnya.

*Mengolah Cerutu Gayo

Dalam mengolah cerutu ala manual bukan saja seseorang harus memiliki keterampilan khusus, tapi juga dibutuhkan proses ujicoba yang panjang serta cara memperlakukan tembakau dengan baik.

Sebelum dipasarkan, cerutu asal Kp. Kayukul olahan Salmi ini telah terlebih dahulu melewati proses tester dan permentasi. Semakin lama “dipendam” maka semakin bagus citarasa yang dihasilkan.

“Biasanya semakin lama waktu permentasi, aroma  cerutu akan lebih harum. Sedang untuk citarasanya, itu tergantung ketinggian area tanam tembakau dari permukaan air laut. Hal lainnya juga turut dipengaruhi perlakuan kita dalam memilah daun mana yang akan dijadikan isi maupun kulit luar pembuatan cigar,” titirnya.

*Berharap Kampung Kayukul Jadi Sentra Cerutu

Masih dikesempatan itu, Salmi berharap melalui karyanya ke depan Kampung Kayukul mampu menjadi sentra produksi cerutu, sekaligus guna menambah income ekonomi masyarakat.

“Maunya saya, cerutu ini bisa membantu mendongkrak pendapatan ekonomi warga di sini (Kayukul-red) sebagaimana buah nanas yang menjadi unggulan produk wisata kuliner. Apalagi di sini juga mulai tumbuh cafe-cafe penjaja kopi arabika.Tentu akan lebih lengkap lagi jika produk cerutu ini bisa jadi souvenir atau lokasi tujuan pengunjung untuk nyigar sembari berwisata, ” pungkas Salmi.

Setidaknya Salmi telah mencurahkan ide kreatifnya untuk menjawab pesan moril yang disampaikan AR Moese sang seniman Gayo melalui karyanya yang mengisahkan kekayaan bumi pertiwi. Mungkin di luar sana masih ada warga lainnya yang berbuat lebih dari itu dalam upaya membangkitkan pamor hasil bumi daerah dingin ini untuk tampil bersaing “dipentas” pasar ekonomi dunia. Semoga…. []**Oleh: Irwandi MN

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here