Ketua Dekranas Aceh, Ibu Ida Yuliati, meninjau Gampong Kerajinan Bordir didesa Dayah Daboh Montasik, Aceh Besar, 4/12.

Perbankan harus Membantu Usaha Kreatif Masyarakat

ACEH BESAR |LeuserAntara| Sektor perbankan harus memberikan kemudahan pemberian modal usaha, bagi masyarakat maupun kelompok-kelompok kreatif yang dalam usahanya sangat memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya Aceh.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Aceh, Ida Yuliat, saat mengunjungi sentra kerajinan bordir yang berada Gampong Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Aceh Besar, Minggu (4/12/2016)

“Para pengambil kebijakan dari dinas terkait yang selama ini menaungi usaha kreatifitas masyarakat, harus menjalin kerjasama dengan pihak perbankan terutama dala hal pemberian modal usaha,” ujar Ida Yuliati.

Dalam kunjungan tersebut, istri dari Pelaksana Tugas Gubernur Aceh itu mengaku sangat mengakumi hasil industri kreatif masyarakat Aceh Besar, terutama bordir khas Aceh.

“Kalau dari teknik bordir, saya rasa Ibu-ibu di sini sudah sangat bagus dan ahli, sangat disayangkan jika keahlian ini justru terkendala dengan tidak terjaminnya ketersediaan bahan dan minimnya bantuan permodalan dari Pemerintah maupun sektor perbankan,” tambah Ida Yuliati.

Saat berkunjung ke pusat kerajinan souvenir Aneka Bordir, di Gampong Dayah Daboh, Ida Yuliati juga menekankan tentang pentingnya menjaga kelestarian bordir khas Aceh dengan mengedepankan kearifan lokal.

“Di lombok ada sebuah aturan dari masyarakat yang sudah dilaksanakan turun temurun. Para pemudi di sana, baru diperbolehkan menikah, dengan syarat si wanita harus memiliki keahlian menenun. Aturan ini sangat efektif melestarikan tenunan khas lombok,” tambah Ida.

Ida menyatakan hal tersebut setelah mendengarkan keluhan para pengrajin yang menyatakan bahwa minimnya ketertarikan generasi muda untuk melirik dan melestarikan usaha bordir yang rata-rata merupakan keahlian turun temurun.

Ada dua lokasi kerajinan yang dikunjungi oleh wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Aceh itu, yaitu pusat souvenir Aneka Bordir, yang diasuh oleh Sumarni serta Karya Indah Bordir, yang diasuh oleh Hj Sulastri.

Ida menuturkan, seni bordir adalah usaha kreatif yang bukan semata melestarikan seni budaya daerah tetapi secara bersamaan merupakan potensi ekonomi yang sangat baik bagi masyarakat.

Sementara itu, untuk menjaga orisinalitas produk di masing-masing gampong, Ida juga menyarankan agar setiap sentra usaha memiliki hak paten. Menurut Ida, selain menjaga hak cipta pemberian paten juga juga meminimalisir konflik dan saling klaim dari masing- masing sentra bordir.

“Akan lebih baik jika di masing-masing masing-masing sentra atau gampong memiliki hak paten. Sehingga tidak akan timbul konflik karena saling klaim,” sambung Ida.

Ida juga mengapresiasi para pengurus Karya Indah bordir yang telah berinovasi dengan memberikan layanan pembelian secara online. “Sangat bagus, tadi saya mendengar langsung dari pengurus Karya Indah Bordir yang telah memberikan la pembelian online dengan keuntungan perbulan mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta perbulan.”

Namun ada hal yang menurut Ida harus segera dibenahi, yaitu ketersediaan bahan baku. “Tadi di sentra bordir, Karya Indah Bordir menyatakan bahwa mereka mendapatkan pesanan dari Jerman pada bulan Desember ini. Namun karena di Aceh tidak ada hal baku, terpaksa mereka memesan dari Solo, ini tentu harus segera kita benahi,” pungkas Ida Yuliati.

Gampong Dayah Daboh merupakan salah satu gampong pusat sentra bordir di Aceh. Selain Aceh Besar, sentra bordir khas Aceh juga tersebar hampir si seluruh wilayah Aceh. Tak hanya memenuhi kebutuhan Aceh. Sentra-sentra tersebut juga sudah di ekspor hingga ke Asia, Amerika dan dan sejumlah negara Eropa. (Ngah)

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*