Beranda TABLIGH Pejabat Muslim di Indonesia, Bagai Melempar Garam ke Laut

Pejabat Muslim di Indonesia, Bagai Melempar Garam ke Laut

BERBAGI
Ilustrasi

Para pejabat negara—terlebih yang Muslim—harusnya sadar bahwa mereka sesungguhnya pelayan umat. Sekadar khadimatul ummah. Tidak lebih. Layakkah pelayannya hidup makmur sedang tuannya melarat? Atau yang lebih tragis, layakkah pelayan hidup makmur dari hasil memperdagangkan umat? Naudzubillah.

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Saad Saefullah

BEBERAPA hari setelah terpilih jadi khalifah, Umar bin Khattab mengumpulkan anggota masyarakat untuk menyampaikan isi hatinya. Di depan mereka Umar berkata, “Dulu saya berdagang, sekarang kalian memberiku kesibukan menangani urusan ini (mengurus negara). Sebab itu, bagaimana saya sekarang memenuhi kebutuhan hidup saya dan keluarga?”

Akhirnya setelah musyawarah, para sahabat Rasulullah mengusulkan agar Khalifah Umar mendapat uang tunjangan (gaji) dari Baitul Maal. Mendengar itu, Umar hanya terdiam, hingga akhirnya bertanya kepada sahabatnya yang sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib.

Kemudian, kata Ali, “Ambillah uang (dari Baitul Maal) secukupnya untuk keperluan keluargamu.”

Mendengar pendapat sahabatnya, Khalifah Umar pun bersuka-cita menerimanya. Dan, akhirnya uang tunjangan pun diberikan dengan pertimbangan saran tersebut. Uang tunjangan itu berjalan sekian lama, hingga para sahabat Rasulullah dikejutkan oleh jumlahnya yang sangat kecil buat seorang khalifah yang menjalankan kewajiban sebagai pemimpin dan pengurus masyarakat.

Dalam pertemuan di sebuah majelis, mereka pun mengusulkan agar uang tunjangan khalifah ditambah. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyampaikan usulan itu langsung kepada Umar. Hingga, mereka memberanikan diri bertemu dengan Hafshah, putri Khalifah Umar yang sekaligus menjadi istri Nabi Muhammad SAW.

Para sahabat meminta kepada Ummul Mukminin Hafshah untuk menyampaikan usulan tersebut dan berpesan untuk tidak menyebutkan nama mereka. Ketika Hafshah menyampaikan usulan itu kepada ayahnya, wajah Khalifah Umar tampak memerah menahan marah. Kemudian beliau bertanya kepada putrinya, “’Siapa yang mengajukan usul itu, Putriku?”’

Dengan sikap santun, Hafshah menjawab, “’Berikanlah dulu pendapatmu, Ayah.”

“Seandainya aku tahu nama mereka, niscaya aku pukul wajahnya. Putriku Hafshah, ceritakan kepadaku tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW selama bersamamu!”

Hafshah menjelaskan, “Rasulullah SAW memiliki sepasang pakaian yang dipakai pada hari Jumat ketika menerima tamu. Makanannya roti yang terbuat dari tepung kasar yang dicelupkan ke dalam minyak. Ketika kuoleskan mentega dari kaleng yang mulai kosong, beliau memakannya dengan penuh nikmat dan membagi-bagikannya kepada orang lain. Kala tidur, beliau hanya menggunakan sehelai kain tebal, ketika musim panas dilipat empat dan musim dingin tiba beliau lipat menjadi dua. Separuh sebagai alas tidur dan lainnya untuk selimut.”

Akhirnya Khalifah Umar berkata kepada putrinya, “Pergilah, dan katakan kepada mereka bahwa Rasulullah mencontohkan pola hidup sederhana dan merasa cukup dengan apa yang ada demi mendapatkan akhirat. Dan, aku akan megikuti jejak langkahnya hingga kelak aku bertemu dengannya.”

Empat belas abad berlalu. Islam dikatakan bersinar kembali di Asia. Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia ikut merasakan gairah ini. Dan ketika para pemimpinnya hidup kian makmur, menjadi pejabat negara, sedang dakwah dan umatnya tidak maju-maju alias stagnan, para pemimpinnya punya dalil lain. “Ada sepuluh pintu surga, sembilan pintu diperuntukkan bagi kaum aghniya,” ujar mereka. Maka berlomba-lombalah mereka mengejar dunia dengan dalih akhirat. Rumah bagai istana sedang tetangganya miskin melarat.

Sunnah Rasulullah untuk menunggang kuda diinterpretasikan kini sebagai kendaraan roda empat. Unta merah tunggangan Rasulullah ditafsirkan sebagai mobil mewah. Mereka berkeliaran di jalan-jalan dengan Jaguar, Land Rover, BMW, dan sebagainya. Kehidupan poligami Rasulullah yang mulia dengan mengawini para janda syuhada dijadikan alasan mengawini dua hingga empat gadis. Jika dahulu Rasulullah dan para sahabatnya memiliki tubuh yang kuat, keras, dan stamina yang tinggi, karena sering berlatih gulat, memanah, dan menunggang kuda, kini para pemimpin umat tubuhnya lemah, lembek, dan perutnya buncit. Mereka lebih banyak bicara ketimbang kerja.

Jika demikian kondisi pemimpin umat dan ‘dilempar’ ke tengah arena kehidupan yang penuh tipu daya jahiliyah seperti sekarang ini, maka itu tak ubahnya bagai melempar garam ke tengah laut. Nggak ngaruh, kata orang Betawi. [Sumber: Majalah Saksi/Rizki Ridyasmara]

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here