Pak Nas: “Inilah Saya”

PADA suatu hari saya duduk ngobrol dengan Bupati Aceh Tengah sambil ngopi. Saat menghirup kopi dan telah lewat kerongkongan, ada sesuatu yang membuat saya gelisah. Tidak sempurna kopi ini tanpa kepulan asap.

“Sabar Dinda. Sebantar lagi merokok,” sebutnya sambil memperhatikan ruangan kerjanya. Saya bisa maklum, ruangan kerja bupati ini jarang ada yang merokok ketika bertemu dengan Pak Nas panggilan akrabnya.

Sambil santai, tanpa kepulan asap, lelaki yang sudah 12 tahun lebih memimpin Gayo Lut ini, memulai pertanyaan kepada saya. “ Bagaimana situasi paska Pilkada ini”. Kebetulan saat itu baru saja usai Pilkada dan Nasaruddin yang berpasangan dengan Zaini Abdullah harus mengakui ketangguhan pasangan Irwandi – Nova.

Sekilas saya menjelaskan apa adanya. Saya juga menyampaikan pro dan kontra penilaian kepada Pak Nas di masyarakat, itu adalah dinamika. “Ada yang menilai positif dan ada yang menilai selama memimpin negeri ini melihat sisi negatifnya”.

“Silakan orang memberikan penilaian terhadap apa yang sudah saya lakukan selama memimpin negeri ini. Sebagai manusia mahluk yang tidak sempurna, saya sudah melakukan yang optimal ,” jelasnya menanggapi komentar saya.

“Sama seperti saya. Ada berita kritikan, ada juga berita pembangunan. Saya menulis apa adanya, tidak ada kepentingan saya. Kalau kritikan, ada yang tersingung, ya saya minta maaf. Karena itu harus saya lakukan,” sebut saya sambil menikmati kopi pahit ekspreso.

“Kritikan kritikan yang adinda sampaikan, dalam ulasan analisa berita bagus itu. Dari sana bisa diambil pelajaran,” jawab Pak Nas sambil melemparkan senyum.

Setelah bercerita sejenak, saya mohon pamit. Selain tamu yang antri di ruang ajudan untuk bertemu Pak Nas cukup banyak, mulut saya juga sudah terasa pahit, belum dilalui nikotin, setelah meneguk kafein.

Sebagai manusia yang hidup dimuka bumi ini, tentunya tidak ada yang sempurna. Apa yang sudah dilakukan Kanda Nasaruddin selama menjabat sebagai bupati, rakyatlah yang memberikan penilaian. Tentunya penilaian itu akan berbeda beda. Tergantung dari sudut pandang masing masing.

Semuanya yang sudah dilakukan menjadi sejarah. Tinggal kita lagi bagaimana menyikapi sejarah yang sudah diukir itu. Semoga dari sejarah yang sudah tertulis dengan goresan pena ini, semakin membuat negeri ini baik, semakin meningkatkan amal ibadah manusia yang menghuninya. Amin… [] Catatan Bahtiar Gayo. Penulis wartawan senior di Aceh Tengah. 

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*