Beranda BERITA Merindu Cinta Pertama Yang Tak Mungkin Kembali

Merindu Cinta Pertama Yang Tak Mungkin Kembali

BERBAGI

SEPASANG remaja saling jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hanya nama kekasih yang menghiasi ruang dinding hatinya. Tiada hari tanpa saling merindu dan rasa cemburu menggelayut saat sang kekasih tidak ada kabar berita.

Cinta pertama itu memang istimewa. Masih murni, buta, tidak memandang apa-apa, tidak ada paksaan dan tentu saja pertama kali merasakan hati berbunga-bunga sehingga sulit dilupakan. Berharap rasa cinta ini akan selalu abadi.

Sang pecinta menafikan perputaran perjalanan waktu. Sejarah percintaan dicatat penuh dengan kebahagiaan, tidak ada penilaian baik buruk, tak mengkaji perbedaan, bahkan tidak akan pernah mempertajam status sosial. Mereka larut dalam rasa cinta, rindu dan cemburu.

Asyik masyuknya rasa cinta mencampakkan kenyataan hidup. Rasa cinta semakin jauh meninggalkan dihantui oleh beratnya beban hidup. Cinta menghapus pengembaraan rimbanya hidup dan kehidupan dan melemparkannya ke semak-semak.

Ketika cinta bersemi, sejoli lupa dan tidak peduli; berapa sudah uang di dalam tabungan? Berapa banyak harta yang sudah ditumpuk? Sudah ada rumah? Sudahkah ada mobil, kebun, asuransi pendidikan-kesehatan dan jaminan masa tua? Dan sederet pertanyaan yang lebih kepada psikis.

Kita tidak mungkin kembali kepada cinta pertama karena sang mantan pun entah dimana rimbanya. Paling mungkin adalah menggali indahnya rasa cinta pertama yang mungkin ┬ábisa membangkitkan energi spiritualisme. Bukankah semua ibadah yang penting adalah rasanya. Bahkan “Rasulullah” sendiri merupakan sebuah kalimat yang bermakna, “Rasa bersama Allah.”[] (Karya tulis dan foto : Fauzan Azima)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here