Beranda ACEH TENGAH Menguak Petualangan Migrasi Kuno Nenek Moyang Urang Gayo

Menguak Petualangan Migrasi Kuno Nenek Moyang Urang Gayo

BERBAGI

BURAMNYA sejarah panjang keberadaan asal muasal etnik Gayo yang mendiami daratan tinggi di Provinsi Aceh mulai meraih titik terang. Setidaknya, setelah ada dan dilakukannya ekskavasi (penggalian) arkeologis oleh tim Balar Medan sejak 2009 di situs Loyang Mendale dan Ujung Karang, Kec. Kebayakan, Aceh Tengah.

Temuan tim arkeolog yang dinakhodai Dr Ketut Wiradnyana hingga kini terus mengembangkan penelitian di daerah penghasil kopi arabika itu. Teranyar, dalam ekskavasi lanjutan di Loyang Medale, ditemukan kerangka manusia berusia ribuan tahun lalu dengan tekhnis penguburan, arah kepala menghadap ke Barat.

Dimungkinkan, cara penguburan  seperti itu merupakan suatu konsep kepercayaan (religi) manusia pra sejarah yang masih terus diteliti oleh tim arkeolog.

“Ini berbeda dari sebelumnya karena temuan yang pertama, kepala kerangka menghadap ke Timur,”  ucap Ketut, saat dimintai keterangannya di Takengen.

Meski ditemukan perbedaan arah hadap tengkorak kepala, namun cara penguburan sama. Di mana posisi kaki berlipat dan bagian tubuh tertimpa bongkahan batu.

“Temuan ini yang paling istimewa. Kenapa demikian? Ini karena dimungkinkan sosok yang meninggal pada masa itu merupakan orang yang penting dalam kelompoknya. Hal itu dibuktikan dengan seluruh badan ditutupi batu serta banyak alat bekal kubur yang dibawa di dalamnya,” ungkap arkeolog kelahiran Bali ini.

*Arus Migrasi “Patahkan” Teori Lama

Aktifitas arkeologis di Mendale, Gayo Lut ini kian menarik setelah ditemukannya alat-alat peradaban dan bahan kosumsi manusia berusia ribuan tahun lalu. Diantaranya; bukit kerang dari budaya hoabin (arus migrasi gelombang ke 1-ras Australomelanasoid) 8. 400 tahun lalu. Blackware/gerabah hitam (migrasi 2-Austroasiatic) 5. 000 tahun lalu.

Selanjutnya; temuan gerabah relip merah, kapak lonjong dan persegi (migrasi ke 3- Austronesia) berusia 3.000 tahun lalu. Temuan pecahan periuk tanah bermotif kerawang di Goa Muslimin, Kp. Toweren (migrasi ke 4-Dongson) dari zaman lebih muda dan temuan krangka manusia (migrasi gelombang ke 5-India).

“Gelombang jalur migrasi tersebut berdasarkan temuan kapak lonjong telah mematahkan teori lama, bahwa arus migrasi ras mongoloid bukan dari wilayah Timur. Namun, dimungkinkan lebih awal dari daerah Barat baru menyebar di tempat lainnya di nusantara,” papar Ketut.

*Temuan Corak Pola Hias “Kerawang” Lebih Banyak Ke Gayo Lues

Selain di Ujung Karang dan Ceruk Mendale, penelitian Balar Medan terus berkembang di seputar Danau Lut Tawar. Ekskavasi terbaru di Goa Muslimin, mengungkap fakta baru dengan ditemukannya bahan priuk di bawah tanah bagian atas goa.

Pecahan priuk tersebut memiliki corak hiasan seperti motif kerawang yang saat ini dikenal masyarakat setempat. Hanya saja karya “seni”  budaya nenek moyang bangsa Gayo tempo dulu jauh lebih kaya akan motif dari pada saat ini.

Menurut Ketut, hiasan tembikar yang ditemukan lebih banyak dan condong bertahan di pola kerawang gayo di Kabupaten Gayo Lues.

Bagaimana dengan pola hias kerawang gayo di Aceh Tengah maupun Bener Meriah? Ahli arkeolog bertubuh tambun ini mengungkapkan, ada beberapa faktor dimungkinkan penyebab “tergerusnya” corak motif pada kerawang di dua daerah dimaksud.

“Bisa jadi cepatnya perbauran manusia di sini, menyebabkan kekayaan pola kerawang terpengaruh oleh luar. Sementara mengacu ke temuan corak hias di Goa Muslimin, pola kerawangnya lebih banyak saat ini ditemukan di Gayo Lues.”

*Selamatkan Situs Arkeologi Gayo

Sementara dalam forum diskusi bertema “Nilai penting situs Loyang Mendale dan sekitarnya bagi masyarakat Gayo” yang berlangsung 29 Juni 2018 di Takengen, mencuat belum maksimalnya perhatian Pemda Aceh Tengah terhadap temuan arkeologi di daerah dingin itu.

“Sulit menjangkau situs ini, karena akses menuju ke lokasi loyang belum dibenahi. Dampaknya, ceruk kurang terurus dan minat pengunjung minim. Padahal bila sarana memadai, situs prasejarah ini bisa dijadikan potensi obyek wisata baru guna membantu menumbuhkan ekonomi bagi warga,” kata Khaldun Junaidi, peserta diskusi merupakan ahli waris situs Loyang Ujung Karang.

Atas kondisi itu, Khaldun berharap, pemerintah atau pihak terkait segera merespon pembangunan akses dari dan ke menuju situs. Apalagi dirinya telah menghibahkan tanah untuk keperluan pembangunan seluas 10 x 30 meter.

“Diskusi yang menghadirkan nara sumber; M Syukri (staf ahli Pemda Aceh Tengah), Win Ruhdi Bathin (pemerhati) dan Ketut Wiradnyana (arkeolog) serta Khalisuddin (moderator) juga membahas pentingnya keberadaan temuan situs sebagai pembuka tabir identitas asal muasal etnik Gayo.

Berdasarkan temuan hunian dan benda arkeolog berusia ribuan tahun lalu di sejumlah ceruk di Aceh Tengah secara otomatis merubah “kiblat” tentang sejarah keberadaan urang Gayo. Di mana etnik Gayo tidak berasal dari Batak, namun sebaliknya, suku Batak dimungkinkan berasal dari sana.

“Dari segi sejarah temuan ini juga dapat menguatkan identitas keberadaan etnik Gayo. Bahkan berdasarkan tes DNA, orang asli pribumi di Gayo memiliki kaitan erat dengan arus migrasi manusia dari India pada gelombang ke V (lima). Artinya, dimungkinkan nenek moyang orang Gayo juga berasal dari India, diperkuat lagi dengan temuan batu bertulis di Linge. Pun begitu masih dibutuhkan kajian yang lebih mendalam, ” ungkap Ketut.

Mengungkap jejak arkeologis di Tanoh Gayo ini belum berakhir. Badan Arkeologi Medan terus dan masih melakukan penelitian lanjutan. Akankah identitas dan sejarah panjang suku pedalaman yang berada di areal pengunungan Aceh ini dapat terungkap secara tuntas kepermukaan? Waktulah yang akan menjawab. [] (Penulis: Irwandi MN)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here