Menggali Sisi Misterius Ceruk Mendale

TEMUAN arkeolog di Tanoh Gayo, Aceh Tengah tentang kerangka manusia prasejarah berikut budaya, peradaban, fosil tulang hewan, gerabah dan lainnya terus berkembang  sejak ekskavasi dimulai 2009 lalu.

Namun, dibalik usaha temuan luar biasa di situs Ceruk Ujung Karang dan Loyang Mendale di Kec. Kebayakan ini, ternyata ada nuansa misterius mengiringi penggalian hunian dalam melacak sejarah asal mula nenek moyang urang Gayo.

“Walau tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tapi secara pribadi saya merasakan ada aura mistis di sini,” kata Ketut Wiradnyana ahli arkeolog Balar Medan saat ditanya penulis, tentang pengalaman pribadinya selama melakukan ekskavasi di Ceruk Mendale ini, Rabu (22/03/17).

Menurut pria kelahiran Bali itu, perjalanan panjang dirinya di hunian manusia purba di sisi Danau Lut Tawar, Aceh Tengah, adakalanya membawa ia ke alam bawah sadar di luar kontek ilmu pengetahuan. Dimana, terkadang seperti ada ruh gaib yang kerap berbisik dan mengantarkannya untuk melanjutkan penelitian dari lokasi temuan satu ke lokasi pengalian berikutnya.

“Mungkin anda tidak percaya, tapi ini nyata. Pernah sekembalinya saya dari ceruk ke tempat penginapan, tiba-tiba dikelarutan malam ada dorongan kuat di hati saya untuk segera ke ceruk ini. Ya, saya putusan pergi, walau setelah itu tidak ada hal apapun ditemui. Hanya saja, ada ketenangan bathin yang tidak saya dapat di tempat lain,” ungkapnya.

Peraih gelar Doktor (Dr) di bidang arkeolog ini melanjutkan, dirinya berkeyakinan, Ceruk Mendale selain merupakan hunian prasejarah pada ribuan tahun lalu juga menyimpan tabir tentang keberadaan ruh abadi “Gajah Putih” yang melegenda.

Gajah Putih sendiri merupakan wujud dari putra Reje (raja) Linge, bernama Bener Meriah yang melarikan diri ke tengah rimba belantara karena difitnah menentang titah raja dan bertapa, berdoa kepada Sang Khalik supaya dirinya berubah wujud. Namun akhirnya keberadaan Gajah Putih ini masuk dalam mimpi sang adik, Sengeda (sumber: Mahreje Guru dalam artikel Asal Mula Legenda Gajah Putih).

“Sebagai orang Bali, kami sangat percaya akan ruh nenek moyang yang selalu menjaga keselamatan. Jadi, selama di sini saya merasa dan yakin sekali ada hubungan spritual dengan ruh Gajah Putih penunggu Mendale. Bahkan, jika sebentar saja lokasi ini saya tinggalkan, ada kerinduan mendalam menggelayut benak seperti kangennya seorang cucu terhadap nenek,” paparnya beristilah.

Dari itu tambah Ketut Wiradnyana, hendaknya keberadaan situs prasejarah di “Negeri Atas Awan” ini bisa dijaga dan dilestarikan oleh para generasi bangsa sebagai cagar budaya dan kekayaan sejarah nasional. Tidak merusak dan membiarkannya terlantar tanpa sentuhan apapun.

“Ini pengalaman pribadi saya dan saya sangat yakin jika ada yang sengaja merusaknya akan terjadi malapetaka bagi si pelakunya. Namun sebaliknya, ceruk ini sangat bersahabat dengan siapa saja yang datang dengan niat baik,” ringkas arkeolog penghobi berat seduan kopi arabika gayo itu.[] **Mario Linge.

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*