Beranda KOLOM Menatap Aceh, Refleksi Terhadap Milad GAM

Menatap Aceh, Refleksi Terhadap Milad GAM

BERBAGI

Oleh: Cut Widya Hasan )*

**Pendahuluan

Beberapa hari lagi, seluruh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di berbagai kalangan dan profesi akan memperingati peringatan Milad GAM ke 40 yang jatuh pada tanggal 4 Desember 2016 nanti.

Selayaknya orang yang akan mengadakan hajatan, para mantan kombatan GAM sudah mulai disibukkan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar perayaan Milad GAM bisa berjalan dengan meriah dan lancar.

Substansi memperingati segala sesuatu yang berharga dalam kehidupan kita adalah sebagai wadah evaluasi dan instrospeksi atas segala sesuatu yang telah kita perbuat pada masa sebelumnya.

Begitu juga dengan memperingati Milad GAM, mungkin bagi sebagian para kombatan GAM, memperingati Milad GAM merupakan sebuah keharusan untuk mengenang sejarah kelam nan panjang mereka pada saat melakukan pemberontakan untuk memisahkan diri menuntut kemerdekaan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mengatasnamakan demi kesejahteraan rakyat Aceh.

Tapi bila dilakukan kajian yang lebih mendalam, substansi dari memperingati Milad GAM yang dilaksanakan setiap tahunnya akan lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibandingkan dampak positif.

Hal itu disebabkan, karena substansi penandatanganan kesepakatan damai yang dilakukan antara GAM dan Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2016, lebih dikenal dengan MoU Helsinki, adalah untuk mengakhiri konflik bersenjata di Aceh yang berlangsung selama lebih kurang 30 tahun.

**Peringatan Milad GAM Akan Terus Memelihara dan Memupuk Semangat “Perlawanan”

Mari kita luangkan waktu sejenak untuk mencermati secara lebih mendalam terhadap substansi perjanjian damai. Perjanjian Damai adalah sebagai salah satu upaya menghentikan peperangan antara ke 2 (dua) belah pihak dan tidak mengingat sekaligus mengulangi kembali apalagi memperingatinya. Seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Sebenarnya mereka tidak boleh lagi memperingati hari ulang tahun (milad), karena paska ditandatanganinya MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 yang lalu, secara otomatis, kelompok separatis GAM sudah tidak ada lagi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tapi dengan tetap dilakukannya peringatan Milad GAM, oleh kelompok manapun dan atas nama apapun serta apapun kegiatannya, maka harus diakui bahwa tindakan tersebut akan terus memelihara dan memupuk serta membangkitkan kembali semangat pergerakan itu, yang seyogyanya atas dasar dan alasan apapun, sejarah kelam tersebut sudah harus dilupakan oleh semua elemen masyarakat Aceh karena tidak ada seorangpun yang bisa menggaransi bahwa dengan memperingati Milad GAM setiap 4 Desember setiap tahunnya tidak akan menumbuh kembangkan semangat pemberontakan kembali.

Apalagi kepemimpinan pemerintahan Aceh, pemerintahan kabupaten/kota di Aceh, baik eksekutif dan legislatif, mayoritas dikendalikan oleh mantan kombatan GAM.

Bukti konkret yang bisa kita lihat sepanjang tahun 2016 ini saja adalah adanya pengibaran bendera GAM di kantor DPR Aceh di ruang anggota dewan yang terhormat (1 Maret 2016), kemudian pengibaran bendera GAM oleh Tgk. Zulkarnaini alias Tgk. Ni di Arafah (22 Maret 2016), dan yang terakhir penyerahan bendera GAM oleh Muzakir Manaf (Wakil Gubernur Aceh) kepada rombongan Kedubes Amerika yang diwakili oleh Mr. David Superstein bidang Kebebasan Beragama Internasional.

Bila kita cermati, apa yang telah dilakukan oleh para tokoh mantan kombatan GAM tersebut merupakan bentuk pelanggaran dan penodaan terhadap perjanjian perdamaian Helsinki, karena bendera bintang bulan yang merupakan bendera kelompok separatis GAM yang dipaksakan oleh Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (PA/KPA) sebagai bendera provinsi Aceh belum mendapat persetujuan oleh Pemerintah Pusat karena jelas-jelas bertentangan dengan MoU Helsinki.

Jika bendera bintang bulan (bendera GAM) disahkan sebagai bendera Aceh, maka dampak negatif yang harus diterima oleh pemerintah Indonesia adalah, bahwa negara luar menilai bahwa Indonesia secara sah dan nyata sudah mengakui kemerdekaan Aceh.

**Mahalnya Menjaga Arti Sebuah Perdamaian

Bila para mantan kombatan GAM lebih mau introspeksi, sebenarnya Pemerintah Indonesia sudah banyak berkorban demi Aceh, karena paska MoU Helsinki, masih mengizinkan pemakaian segala macam atribut, logo, embel yang dipakai oleh kelompok separatis GAM, dan memperingati Milad GAM setiap 4 Desember.

Satu hal yang patut disayangkan, pada setiap memperingati Milad GAM, ada saja pengibaran bendera GAM oleh pihak-pihak yang tetap ingin kemerdekaan Aceh dari NKRI karena hal tersebut dianggap sebagai pelanggaran dan merusak perdamaian Aceh yang sudah dirasakan masyarakat Aceh.

Menjaga perdamaian bukan sekedar dengan pemerintah pusat, tapi menjaga hubungan dengan masyarakat Aceh juga merupakan wujud menjaga komitmen perdamaian.

Tapi yang kita lihat sekarang adalah, Pemerintah Aceh lebih berjuang dan perduli untuk maksud dan tujuan kelompoknya dari pada berjuang dan memakmurkan rakyat Aceh.

Berbagai macam program yang telah dijanjikan sebelumnya sampai sekarang ini realisasinya masih perlu diperdebatkan dan dipertanyakan kembali.

Hal ini sebenarnya juga merupakan salah satu wujud penghancuran perjanjian damai di Aceh. Jangan mengkambing hitam kan siapapun, jika ada sebagian kelompok masyarakat Aceh ingin memisahkan diri dari provinsi Aceh, ini semua akibat dari ketidakadilan dan ketidakbijaksanaan pemerintah Aceh dalam menjalankan tugasnya untuk memakmurkan dan menjaga perdamaian di Aceh.

Biarkanlah pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi bagian dari catatan sejarah perjalanan panjang Aceh, karena dengan memperingati Milad GAM setiap tahunnya, sama artinya dengan memperingati masa lalu pergerakan GAM.

Tidak ada yang bisa dibanggakan dari peristiwa ini, karena tidak ada seorangpun masyarakat Aceh merasa bangga menyandang predikat sebagai pemberontak, tidak ada orang tua manapun yang akan bangga mempunyai anak seorang pemberontak begitu juga sebaliknya, sebagai anak tidak akan merasa bangga mempunyai orang tua sebagai pemberontak demikian pula sebagai istri atau suami.

Sepantasnya sejarah kelam kita tidak diwariskan kepada anak cucu kita, biarkan itu menjadi aib yang hanya kita mengetahuinya dan kita pendam jauh di dalam ingatan kita agar tidak terulang pada generasi Aceh yang akan datang.

Sudah saatnya kita merasa malu terhadap diri kita sendiri bila memperingati Milad GAM, bukan sebaliknya merasa bangga dan jumawa karena dana yang dipergunakan untuk perayaan peringatan Milad GAM mengalir didalamnya darah masyarakat yang menjadi korban.

Kepedihan dan trauma keluarga korban sampai saat ini masih tersimpan dan mengakibatkan antipati terhadap mereka hingga saat ini, hanya saja mereka tidak berani untuk melontarkan dan memperlihatkannya. Kalaupun saat ini ada pemberian bantuan yang selalu mengatasnamakan bantuan dan santunan terhadap para anak yatim, janda, dan masyarakat korban konflik dari kelompok tertentu, pada hakikatnya hanya sebagai upaya penyelamatan diri dan pencucian tangan semata, karena pemberian bantuan terhadap masyarakat tersebut banyak diserahkan kepada kelompok dan keluarga sendiri bila dibandingkan kepada masyarakat yang benar-benar menjadi korban konflik Aceh, serta dijadikan sebagai ajang untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa apa dirasakan oleh masyarakat Aceh saat ini merupakan buah dari perjuangan mereka.

Janganlah dukungan yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka pada Pemilu Legislatif 2014 dan Pemilukada 2012 yang lalu dijadikan sebagai parameter bahwa besarnya dukungan masyarakat Aceh terhadap mereka, karena dukungan suara yang diberikan oleh masyarakat saat itu tidak bersumber dari hati nurani, melainkan karena terindikasi adanya faktor keterpaksaan, ancaman, intimidasi, teror, dan kehilangan nyawa.

Inilah realitas sebenarnya yang harus diketahui, oleh karena itu, untuk menghilangkan image negative masyarakat atas apa yang telah mereka perbuat di masa lalu, sebaiknya peringatan Milad ditiadakan agar trauma psikis yang dirasakan oleh masyarakat Aceh berangsur-angsur bisa dihilangkan.

Namun bila para mantan kombatan GAM masih tetap bersikukuh memperingati Milad GAM, maka sampai kapanpun masyarakat akan tetap memandang kejadian masa lalu yang mereka rasakan akan terus muncul dan terpelihara sampai kepada anak cucu.

Hendaknya bagi masyarakat yang bukan bagian dari mantan kombatan GAM, sebaiknya tidak ikut-ikutan hadir agar tidak digolongkan bagian dari kelompok mereka.

**Penutup

Semoga perayaan Milad GAM tanggal 4 Desember akan datang menjadi bahan renungan bagi kita semua atas apa-apa yang telah kita diperbuat untuk rakyat dan generasi Aceh kedepan dan tetap terus menjaga perdamaian Aceh.

Bila pemberontakan yang dulu dilakukan bertujuan untuk memberikan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh, hendaknya niatan tersebut menjadi tujuan utama setiap pemimpin Aceh seperti yang telah diamanatkan oleh MoU Helsinki dan UUPA demi Aceh yang lebih baik, bermartabat, dan terus terpeliharanya perdamaian di Bumi Serambi Makkah.

Semoga tulisan singkat ini memberikan manfaat dan bisa memperluas khasanah terhadap makna dari perdamaian bagi kita semua. Marilah kita jalani hidup ini dengan keinsafan nurani, selalu membantu dan mengingatkan saudara kita tanpa ingin mendapatkan pujian atau pun penghargaan, dan tidak saling menyakiti sesama.

Jangan terlalu perhitungan.  Belajarlah, tiada hari tanpa kasih sayang. Mari kita belajar untuk selalu berlapang dada dan mengalah agar terlepas semua beban yang mendera dan menyandera kita.
Tak satu kesalahan pun yang tak bisa dimaafkan, tak ada dendam yang tak bisa terhapus karena Allah Azza Wajalla selaku Sang Maha Pencipta memiliki sifat Pemaaf.

**Penulis adalah mahasiswa asal Aceh yang sedang mengikuti semester akhir Program Pasca Sarjana Program Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammad iyah, Malang. (Isi atau tulisan artikel di luar tanggungjawab pihak redaksi). 

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here