Beranda ACEH TENGGARA

Menakar Kekuatan Modal Sosial (Social Capital) Calon Anggota Legislatif 2019

BERBAGI

Oleh : Ardiansyah Putra*

Pada   umumya   didaerah   dengan   kompleksitasnya   persoalan,   dimensi modal   sosial hampir diabaikan, dan jauh berada di luar alam pikir masyarakat pada umumnya. 

Padahal di berbagai belahan dunia dewasa ini, kesadaran akan pentingnya faktor modal sosial cukup tinggi, dan menjadi kepedulian bersama. Modal sosial diyakini sebagai salah satu komponen utama dalam mengelola kebersamaan, mewujudkan ide, membangun kesalingpercayaan, dan
mewujudkan kesalingmenguntungkan untuk mencapai kesejahteraan dan kemajuan bersama.

Dalam   konteks penyelenggaraan   pemilu   legislatif, modal sosial   memiliki   pengaruh yang   sangat   menentukan   dalam   meraih   kemenangan.  Seorang   kandidat   (calon   anggota legislatif)   yang  memiliki modal sosial tinggi akan   berpeluang besar dalam memenangkan
kontestasi pada pemilu legislatif baik  ditingkat DPRK, DPRA maupun DPR RI.  

Hal ini memungkinkan terjadi karena   masyarakat dewasa ini tidak lagi melihat   calon anggota legislatif dari jumlah cost politic yang dimiliki, tapi lebih kepada melihat calon mempunyai social capital  (modal sosial) yang tinggi. 

Karena banyak kelompok masyarakat yang mulai meninggalkan calon-calon yang mengandalkan politik transaksional dan beralih kepada calon anggota legislatif yang memiliki modal sosial tinggi karena dianggap akan cenderung lebih
efisien dan efektif mewujudkan  komitmen  dengan  masyarakat  (kontituen)   yang memilih.

Dalam hal ini calon yang memiliki modal sosial tinggi mempunyai peluang yang besar untuk bisa memenangkan kontestasi pertarungan. Hal ini selaras seperti menurut Prusak L (Field,
2010:26), modal   sosial adalah  hubungan yang terjadi dan diikat oleh   suatu kepercayaan (trust), saling pengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang
mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama secara efisien dan efektif.

Dalam   menghadapi   pemilu   legislatif   tanggal   17   April   2019,   masyarakat   (pemilih) harusnya bisa melihat kandidat-kanditat yang memiliki unsur-unsur pokok   modal sosial. Sebagaimana Lubis (2006), menyimpulkan bahwa unsur-unsur pokok modal sosial mencakup 3 hal, yaitu :   

(1) Kepercayaan/Trust (kejujuran,   kewajaran, sikap egliter, toleransi, dan
kemurahan hati), (2) Jaringan sosial/Social Networks (partisipasi, resprositas,   solidaritas, kerjasama), dan (3)   Pranata/Institution.   

Berdasarkan hal diatas kita tentunya   dapat memilih/menimbang seseorang yang dianggap layak untuk mewakili suara kita, memahami persoalan kita   dan mampu berpikir dengan progresif   untuk menyelesaikan persoalan-
persoalan yang membayangi kita selama ini. Seperti pemerataan pendidikan, kesejahteraan sosial, kesejahteraan   ekonomi secara menyeluruh dan   ketimpangan pembangunan infrastruktur.

Dalam pesta demokrasi 2019, baiknya   masyarakat meninggalkan calon-calon   yang cenderung melakukan politik uang (money politic) dan beralih calon-calon yang mempunyai kekuatan modal sosial yang tinggi. Karena ada kecenderungan bahwa calon yang terpilih melalui kekuatan modal sosial lebih bisa menjaga kepercayaan  (trust),  mampu mengelola
jaringan dengan baik serta lebih bertanggung jawab secara moral. 

Oleh sebab itu kita dalam kelompok masyarakat harus saling mengedukasi  dan  berbagi infomasi bahwa calon  yang memiliki modal sosial yang tinggi akan   mampu mengakomodir kebutuhan-kebutuan masyarakat di daerah pemilihannya.

Semoga kontestasi pemilihan legislatif 2019 menjadi pemilu yang damai, sejuk dan tidak memecah belah masyarakat. Tentunya calon-calon anggota legislatif juga harus mampu memberikan ide dan   gagasan yang mampu menjawab   persoalan mendasar pada daerah
pemilihan masing-masing.   

Proses edukasi mejadi pemilih cerdas   juga harus terus disosialisasikan oleh   penyelenggara pemilu secara menyeluruh pada tingkat masyarakat.

Pemilu legislatif 2019 merupakan penentu terpilihnya keterwakilan masyarakat dari masing-masing daerah pemilihan, maka dari itu pilihlah calon yang mampu membawa/mewujudkan ide dan gagasan   yang bermanfaat bagi kemaslahatan   masyarakat dan yang mempunyai
kesadaran moral yang baik.

*Peneliti LKPM Pandawa Indonesia

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here