Membahas Bahasa Berdasarkan Gender

BAHASA adalah alat komunikasi yang dipakai oleh masyarakat untuk berinteraksi atau mengekpresikan gagasan. Bahasa juga merupakan suatu kemampuan yang dimiliki manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Bahasa bisa mengacu pada kemampuan kognitif untuk dapat mempelajari dan menggunakan system komunikasi yang kompleks. Sebagai objek kajian linguisti bahasa memiliki 2 arti dasar yaitu: sebagai konsep abstrak dan sebuah system linguistic yang spesifik. Bahasa juga mengkaji tentang sociolinguistic.

Sociolinguistic berasal dari kata socio dan linguistic. Socio yang berarti masyarakat dan linguistic yang berarti ilmu yang mempelajari tentang bahasa dan menjadikan bahasa menjadi objek kajiannya. Jadi, sociolinguistic merupakan ilmu yang mempelajari hubungan masyarakat dengan bahasa.

Penggunaan bahasa yang digunakan masyarakat berbeda-beda tergantung pada bidang dari sociolinguistic itu sendiri seperti : social class, gender, age, ethnic varieties, dan speech communities.

Dalam sociolinguistic juga membahas tentang penggunaan bahasa dan jenis kelamin seseorang untuk berinteraksi atau bersosialisasi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Didalam kelima bidang diatas saya akan membahas bagaimana penggunaan bahasa dengan jenis kelamin (gender). Terbagi menjadi 2 yaitu pria dan wanita. Jenis kelamin (gender) saat berpengaruh pada penggunaan bahasa seseorang karena jenis kelamin (gender) menunjukkan identitas sosial yang muncul atau dibangun melalui aksi sosial dan berpengaruh terhadap norma budaya dan larangan tertentu.

Ini merupakan ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang dan mengarah pada identitas seseorang dalam bermasyarakat. Bahasa meniliki perbandingan besar antara pria dan wanita dalam penggunaannya.

Perbedaan bahasa wanita lebih  bersifat feminim sedangkan bahasa pria bersifatmaskulin. Dalam penggunaan bahasa wanita lebih berhati-hati sebelum berbicara dengan lawan bicaranya, lebih lembut, wanita suaranya lebih tinggi,wanita juga lebih banyak mengeluarkan kata-kata yang tidak penting untuk dibahas atau diucapkan.

Ketika wanita berbicara dapat menarik perhatian si pendengar dan ketika berbicara memikirkan  sesuatu yang akan dibicarakan. Sedangkan pria dalam penggunaan bahasanya lebih terkesan kasar, tidak mementingkan perasaan si pendengar ketika ia sedang berbicara, dan juga tidak banyak mengeluarkan kata-kata dari pada wanita.

Perbedaan pria dan wanita itu mungkin tidak langsung dilihat dari segi bahasanya melainkan juga dengan tutur katanya. Perbedaan juga dapat dilihat dari gesture yang menyertai tutur kata seseorang. Misalnya seseorang mengatakan “tidak” maka ia juga akan menggelengkan kepalanya ketika mengucapkan kata tersebut.

Perbedaan lain juga dapat dilihat dari tinggi rendahnya suara pria dan wanita, hal ini mencakup tata karma atau nilai sopan santun seseorang dalam berbahasa.

Dalam artikel ini penulis akan menulis perbedaan penggunaan bahasa dalam jenis kelamin, penulis mengambil pengamatan tentang artikel ini dalam lingkungan masyarakat.

Berdasarkan pengamatan penulis penggunaan bahasa yang digunakan pria terkesan kasar, serta tidak memetingkan perasaan orang yang mendengar ketika is berbicara dengan orang lain apalagi ketika ia sedang marah kita juga dapat melihatnya dari gesture dan tutur kata yang ia ucapkan.

Sedangkan penggunaan bahasa wanita berdasarkan pengamatan penulis, penggunaan bahasanya lebih kepada penuturan yang lembut dan ia juga memikirkan kata-kata yang ia bicarakan.

Selain itu, kata-kata yang ia sampaikan juga dapat menarik perhatian karena wanita dalam berbicara atau berbahasa dapat memotivasi si pendengar. Wanita jika meluapkan emosi ia lebih memilih untuk diam dan memendam sendiri. Namun berbeda dengan pria jika ia meluapkan emosinya ia bisa berubah lebih dari yang kita kenal bahkan ia bisa bermain fisik.

Umumnya wanita lebih banyak berbicara daripada pria, pembicaraan wanita sering uga dikenal dengan gosip sedangkan pria dalam pembicaraannya jarang memakai istilah seperti perempuan.

Percakapan perempuan banyak namun tidak berujung/tidak bermakna. Dengan demikian, saat ini tiap-tiap pria dan wanita memiliki kecenderungan sama dalam hal kuantitas, frekuensi, dan kualitas dalam berbicara. Hal ini juga bergantung pada posisi/kedudukan, tingkat pendidikan, dan topic pembicaraannya.

Jadi kesimpulan dari artikel ini adalah penggunaan bahasa pria dan wanita itu sangat berbeda dari segi penggunaan dan tutur katanya. Penggunaan bahasa antara pria dan wanita dapat  menjadikan suatu identitas sosial dalam bermasyarakat.[] ***Oleh: Rika Juliana Tanjung. Mahasiswi STAIN Gajah Putih Takengen.

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*