Beranda NASIONAL Lindungi Badak Sumatera Dari Kepunahan, Putra Aceh Dapat Penghargaan Dari Amerika

Lindungi Badak Sumatera Dari Kepunahan, Putra Aceh Dapat Penghargaan Dari Amerika

BERBAGI

index

BANDA ACEH | Rudi Putra, alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jurusan Biologi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dianugerahi penghargaan paling prestisius dunia untuk aktivis lingkungan, Goldman Environmental Prize. Rudi Putra mendapatkan penghargaan untuk kategori penggiat yang bergerak di negara kepulauan. Penghargaan ini mulai diberikan sejak tahun 1990. Penghargaan ini sering disebut sebagai Hadiah Nobel di bidang keadilan lingkungan (environmental justice).

Penganugerahan penghargaan ini berlangsung dalam acara The Goldman Prize Ceremony di Ronald Reagen Building and International Trade Center, Washington, DC, Amerika Serikat, Rabu, 30 April 2014.

Rudi berhak mendapatkan hadiah uang sebesar 175 ribu dolar AS (sekitar Rp 1,75 miliar). Dana ini akan diperuntukkan untuk mendukung kegiatan yang dilakukannya. Selain Rudi Putra, pemenang Goldman Prize tahun ini berasal dari Afrika Selatan (Desmon D’Sa), Amerika Serikat (Helen Slotje), Peru (Ruth Buendea),Rusia (Suzen Gazaryan) dan India (Ramesh Agrawal).

Rudi dinilai layak untuk menerima penghargaan tersebut karena dua alasan. Pertama adalah karena upaya melindungi Badak sumatera dari kepunahan. Upaya ini cukup sukses dilakukan Rudi di Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh sejak 14 tahun lalu. Rudi dan kawan-kawan melakukan patroli tanpa henti di wilayah-wilayah habitat Badak sumatera, dengan atau tanpa dana.

Pada saat Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKL) dibubarkan, Rudi bersama teman-teman segera menginisiasikan pembentukan Forum Konservasi Leuser untuk melanjutkan patroli terhadap badak Sumatera di Leuser. Saat ini populasi Badak di Leuser meningkat, tetapi masih dalam populasi yang kecil. Di dunia, populasi binatang langka tersebut saat ini kurang dari 200 individu, dan di Leuser diperkirakan merupakan populasi terbesar.

Penilaian kedua adalah upaya restorasi kelapa sawit menjadi hutan kembali di Kawasan Ekosistem Leuser, Aceh Tamiang. Hal ini dilakukakan untuk mengembalikan fungsi hutan yang telah berubah fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Total terdapat 26 kepemilikan perkebunan kelapa sawit illegal di dalam kawasan hutan yang berhasil ditutup oleh Rudi dkk. Luasnya lebih kurang 3.000 hektar. Upaya ini dilakukan dengan bekerjasama dengan masyarakat, LSM, Pemda dan Kepolisian.

Dari 3.000 hektar lahan ini, sekitar 700-800 hektar telah direstorasi dengan cara menebang kelapa sawit yang ada dan hutan kembali tumbuh dengan sangat cepat tanpa perlu biaya menamam kembali.

“Pemerintah Aceh seharusnya sadar bahwa saat ini bukan masanya lagi untuk menebang hutan atau mengkonversinya menjadi kawasan bukan hutan. Dunia sudah berubah. Hutan perlu dilindungi untuk kehidupan saat ini dan masa depan. Di atas kertas kita memang masih memiliki 3,5 juta hektar hutan, tapi coba lihat kondisinya. Saat ini hampir di seluruh hutan Aceh porak-poranda oleh tambang, illegal logging, perambahan, perkebunan kelapa sawit,” ungkap Rudi.

“Kita harus selamatkan hutan karena sangat penting bagi masa depan Aceh. Tanpa hutan kita akan kehilangan air, tanpa air kita akan mati. Di banyak daerah di Aceh orang sudah kesulitan mendapatkan air bersih, sungai tercemar. Bencana alam sangat dekat dan sangat besar,” pungkas Rudi.

Data menunjukkan bahwa hutan yang tersisa saat ini di Aceh sebenarnya bukan hutan yang baik karena berada di ketinggian lebih dari 1.500 m dan dengan kondisi kemiringan yang curam. Pada lokasi tersebut umumnya tidak banyak kayu dan keragaman hayati lainnya, hanya berupa pohon-pohon kecil yang kemampuan menangkap airnya kecil dan rawan longsor.

Sejarah mengungkapkan bahwa Kawasan Ekosistem Leuser merupakan kawasan konservasi pertama di dunia yang dibentuk atas desakan para tokoh-tokoh pemimpin Aceh pada tahun 1934. Pada tahun 1924 mereka sudah memprotes Belanda yang ingin membuka pertambangan di Gayo dan minyak di pantai Barat Aceh. Mereka sadar betul bahwa hutan perlu dilindungi untuk kehidupan. Ironis, jika kita yang konon jauh lebih modern dan terpelajar dari mereka malah berpikir sebaliknya. (ACEHKITA)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here