Beranda BANDA ACEH Laksamana Malahayati, Asal Aceh Jadi Pahlawan Nasional

Laksamana Malahayati, Asal Aceh Jadi Pahlawan Nasional

BERBAGI

JAKARTA (LeuserAntara): Laksamana Malahayati asal Provinsi Aceh diakui oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Penetapan perempuan pertama di dunia yang memimpin angkatan laut (laksamana) tersebut sebagai pahlawan akan diumumkan oleh Pemerintah Indonesia pada upacara hari pahlawan, 10 November 2017.

Dengan diakuinya Malahayati sebagai pahlawan nasional, berarti Provinsi Aceh kini memiliki 3 pahlawan nasional perempuan. Dua perempuan asal Aceh lainnya yang sudah duluan ditetapkan sebagai pahlawan nasional adalah Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, H Firmandez, Jumat, (27/20/ 2017) di Jakarta mengungkapkan, tahun ini pemerintah menetapkan 3 pahlawan nasional, yakni Malahayati dari Aceh, Mahmud Marzuki dari Riau dan Tuan Guru Kyia Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madid atau dikenal sebagai Hamdanwadi dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Kita bersyukur atas pengangkatan Malahayati ini dan kita patut berbangga dari 15 orang perempuan pahlawan nasional, 3 orang diantaranya merupakan orang Aceh,” jelas anggota DPR RI asal daerah pemilihan (Dapil) Aceh 2 tersebut.

Laksamana Malahayati
Menurut H Firmandez, sejak zaman dahulu sejarah mencatat banyak perempuan Aceh yang aktif berjuang mengusir penjajahan, bahkan perempuan Aceh sejak zaman kerajaan sudah terjun dalam politik.

“Kerajaan Aceh pernah dipimpin oleh perempuan (sultanah/ratu) selama enam dekade,” ungkapnya.

Karena itu lanjut H Firmandez, Aceh selain dikenal sebagai serambi mekah juga sering disebut sebagai bumi para syuhada.

“Orang Aceh itu pria dan wanita bahu membahu berjuang untuk agama, bangsa dan negara. Sejarah mencatat ada banyak wanita-wanita tangguh lainnya asal Aceh yang aktif di garda depan peperangan melawan penjajahan Belanda, bahkan mereka langsung memimpin peperangan bersama pasukannya.

Wanita-wanita lainnya pejuang asal Aceh yang potensial untuk jadi pahlawan nasional itu adalah Pocut Meuran Intan yang dikenal sebagai Pocut Di Biheue di Pidie, Pocut Baren di Woyla Aceh Barat dan Teungku Fakinah di Aceh Besar.

“Mereka-mereka itu pejuang-pejuang tanggung di masa perang dengan Belanda. Nama-nama mereka tertulis dengan tinta emas dalam buku Prominent Women in the Glimpse of Histori atau wanita-wanita utama nusantara dalam sejarah,” ungkap H Firmandez.

Malah lanjut H Firmandez, karena kegigihannya melawan penjajahan Belanda, Pocut Di Biheue pada akhir hidupnya setelah sakit akhibat perang ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Jawa Timur. Ia dimakamkan di Blora, Jawa Timur.

“Pocut Di Biheue ini dicatat dalam sejarah bukan hanya oleh bangsa Indonesia tapi juga oleh Belanda. Perwira militer Belanda semasa Perang Aceh, Veltmant yang dikenal sebagai Tuan Pedoman yang bisa berbahasa Aceh, datang langsung menjenguk Pocut Di Biheue dalam sakitnya sebelum ditawan. Veltmant berdiri tegak dan mangangkat tabik menaruh hormat atas perempuan pemberani itu,” jelas H Firmandez.

Begitu juga dengan Pocut Baren wanita pejuang tanguh asal Woyla, Aceh Barat, kakinya diamputasi setelah ditangkap oleh Belanda. Sementara Teungku Fakinah memimpin perang melawan Belanda di empat benteng pertahanan.

“Spirit kepahlawanan perempuan-perempuan Aceh masa lalu luar biasa. Mereka pantas digelar sebagai pahlawan nasional. Spirit mereka itu yang harus ditiru oleh generasi Aceh sekarang dalam membangun bangsa dan negara,” harap H Firmandez.[HK/WOI)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here