Beranda BENER MERIAH

Konflik Gajah Dan Manusia Belum Reda, BKSDA Diduga “Kendor”

BERBAGI

Redelong (LeuserAntara): Meski berbagai upaya telah dilakukan sebelumnya, namun konflik gajah dengan manusia belum berakhir hingga kini di Kec. Pintu Rime Gayo, Kab. Bener Meriah, Provinsi Aceh.

Setidaknya sejak 2014 amukan gajah di wilayah pintu gerbang menuju daerah Gayo dari arah pesisir ini telah menyebabkan 4 korban jiwa. Puluhan hektare area perkebunan produktif terlantar, rumah warga rusak serta dampak kerugian ditaksir telah mencapai milyaran rupiah.

Demikian ungkap Camat Pintu Rime Gayo, Sanusi Purnawirawan Dede, saat dikonfirmasi LeuserAntara.com, Jumat (1/2) di ruang kerjanya terkait persoalan gajah yang kembali memasuki perkebunan warga di Kp. Menderek, Musara Pakat dan Belang Bertona di Km. 60 kecamatan setempat.

“Ya di tiga kampung tersebut saat ini ada 7 ekor gajah yang berkeliaran karena terpisah dari kelompoknya. Gajah ini baru beranak. Dimana sebelumnya ada 41 ekor gajah yang kerap turun dari kawasan hutan di sekitar permukiman warga,” ungkap Sanusi.

Berkeliarannya hewan berbelalai ini selain membuat warga takut turun ke ladang, juga telah menyebabkan puluhan hektare komoditi pinang tumbang dirusak dan lahan sawit terlantar. Para petani di sana terpaksa berdiam diri di rumah tanpa bisa beraktifitas mencari rezeki ke area perkebunan.

“Selama ini banyak laporan kami terima dari warga. Mereka resah. Biasanya selain melakukan koordinasi dengan pihak terkait maupun BKSDA, kami juga memberikan petasan untuk mengusir gajah. Hanya saja karena anggaran terbatas, upaya bantuan ini belum maksimal,” jelasnya.

*Respon BKSDA Provinsi Aceh Lemah

Lain itu, Camat Pintu Rime Gayo ini mengutarakan, terkait persoalan itu Pemda melalui bupati juga kerap melakukan koordinasi dengan BKSDA provinsi maupun dirinya selaku camat dengan petugas balai yang di tempatkan di wilayah ini. Namun respon BKSDA dinilai lemah dalam mengatasi konflik hewan yang dilindungi ini dengan manusia.

“Respon BKSDA sejauh ini sangat lemah. Walau mereka kerap turun bila mendapat laporan, ┬átapi upaya petugas di sini belum maksimal, alasannya anggaran tidak memadai untuk menanggani persoalan yang terjadi di sini,” katanya.

Ia mendesak Pemerintah Provinsi Aceh maupun BKSDA untuk tidak “kendor” menyelesaikan sengketa aksi gajah tersebut dengan manusia. Melakukan upaya penggiringan gajah sampai kembali ke habitatnya.

“Saya kira, cara satu-satunya mengatasi konflik gajah dan manusia di Pintu Rime Gayo ini yakni dengan melakukan penggiringan gajah untuk kembali ke habitatnya. Sehingga ke depan tidak terjadi lagi konflik satwa liar dan warga,” tukasnya.

Sampai berita ini diturunkan belum diperoleh keterangan resmi dari pihak BKSDA tentang upaya penangganan konflik gajah dan warga yang sudah dilakukan di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. [] (Lap.Irwandi MN)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here