Beranda ACEH TENGAH Kisah Lain Dibalik Kepingan Medali Catur PORA

Kisah Lain Dibalik Kepingan Medali Catur PORA

BERBAGI

CATUR itu seperti musik. Bisa membuat manusia bahagia, menjadi sedih dan romantis. Tidak percaya???? Inilah sepenggal kisah, perjalanan tim catur Aceh Tengah yang baru saja selesai mengikuti PORA 2018 di Kota Jantho, Aceh Besar.

Sore itu, senja baru pulang keperaduannya. Hiruk pikuk manusia masih terdengar diluar basecamp tempat atlet catur menginap. Penat menggelayut tubuh dan jiwa. Namun, di ruang sederhana itu masih terdengar pembahasan ringan tentang perjalanan pertandingan yang hari itu dilalui para pecatur.

Tim catur asal Gayo Lut ini ada yang masih asyik membahas partai catur yang kalah atau menang. Disisi lain ada yang menyedu racikan serbuk hitam arabika gayo. Aroma kopi ini kerap mewarnai setiap perbincangan tim “kecil” itu.

Win tos ko mulo kopi ni ama.Hana ni pake ni dor nos buet,  kin urusen te ini. Aduh ine? (Nak kamu buat dulu kopi bapak. Apa orang ini! setiap hari bikin kerjaan dan jadi urusan kita.Hadeeh),” kata Bahtiar Gayo, atlet catur ketika meminta dibuatkan secangkir kopi kepada Khosi Nawar, official tim catur yang juga anak kandungnya.

“Siap Ama,” kata Khosi sambil tertawa menerima perintah. Tawa lepasnya bukan meledek si bapak. Tapi melainkan gendang telinganya yang baru saja merekam perbincangan Maidin Melala (official tim) yang sedang membahas partai catur dengan Surya Bakti (atlet).

Langkah enti tesesandul pak Sur. Kuasai renye teori kati enti mutungem. Segereek, gerek gereeek. Beta kedaheso. (Langkah jangan entah apa-apa pak Sur. Kuasai teori biar tidak kalah. Gitu kira-kira),” kata Maidin.

Celotehan official ini ditanggapi secara dingin oleh Surya Bakti. Matanya fokus menatap 64 petak catur. “Eleh jangan kegalaken (senang) dulu , belum tentu kita mau. Kalau langkah ini (catur maksudnya) kune (bagaimana) Din?!,” ucapnya bertanya ke Maidin.

“Ni kiteni ara pedih. Hone ke catur posisi kalah. Baru i Ate i. A turah kulatih mulo mien kam. (Kita ini, di situ posisi catur sulit baru dipikir. Sini biar saya latih lagi kalian),” ujar Maidin.

Lain tingkah polah kedua sesepuh catur Aceh Tengah ini, lain pula kegiatan Marzuki Tarigan dan Firanda Girsang. Kedua nama pecatur Aceh Tengah terakhir ini kerap menyelingi setiap keharmonisan tim.

Firanda sendiri kerap sibuk dengan “profesi barunya”. Ya selama kebersamaannya di Kota Jantho, Firanda jarang bicara. Ia sibuk jadi koki, saban hari memasak kikil (kulit sapi) wartel dan pisang kepok sebagai asupan ‘gizi’.

Kune Muhadi (pelatih catur-red)? Aku kin ningko sana kin. Kule pe kutengkam. Betulke.(Gimana Muhadi. Untuk kamu harimau pun kutangkap),” kata Ucok nama akrap Marzuki dengan suara khas Medannya yang sedang bercanda dengan Muhadi.

“Abang Ucok lucu. Aku sakti bang. Suhu ku atas (tinggi). Abang jangan melawan, aku ini pelatih,” kata Muhadi memecah tawa segenap tim di ruang itu.

Aaa ling. Nee pelatih sakti. Lagu Gere ko si kelem Mane nge kutungemen onom kosong.(Asal bicara. Ngaku pelatih sakti, seperti bukan kamu yang kemarin saya kalahkan 6-0),” timpal Maidin.

“Ooo ga bisa pak de (Maidin maksudnya). Aku tetap sakti. Coba tanya bang Wandi? Aku pelatih kan bang,” kata Muhadi ke penulis.

Mukune nge meh kite ni. Ojokne turah ku perikse mulo sara-sara pake ni.(Kenapa udah kita ini. Bisa-bisa terpaksa saya periksa (medis) dulu satu persatu semuanya),” sebut Iqoni Rahmad Simulo, tim medis kontingen Aceh Tengah yang setia menemani tim catur asal daerah dingin selama bertanding di Jantho.

*Mulai ‘Ngawur’

Tak hanya sampai di situ perjalan tim catur Aceh Tengah yang sukses menjadi juara dua umum di cabang asah otak ini dengan meraih 4 medali emas, 4 perak dan 1 perunggu juga diwarnai dengan cerita nyentrik.

Surya Bakti misalnya, di suatu malam sekira pukul 24:00 Wib, ia terbangun dari tidur dengan tubuh dibasahi keringat. Setengah sadar ia bertanya ke penulis, “Nge azan soboh ke Di? Kati semiang mulo aku.(Sudah azan subuh Di? Biar sholat saya),” katanya.

Dengan santai penulis iseng menjawab, ” Pora mi ilen pak Sur. (Entar lagi pak Sur).” Seketika Surya Bakti bangkit dari tempat tidurnya. “Ike lagu noya dang-dang semiang keta senam pagi mulo aku. (Kalau seperti itu, menunggu sholat, biar senam pagi dulu saya di luar),” ucapnya.

Seketika Surya ke luar  ruangan. Di luar ia terdengar berteriak dengan suara cukup keras. “Terus..terus…mundur,” kata Surya yang ternyata ada mobil bus atlet yang terjebak tanah berlumpur di sana. Kemudian, ia melanjutkan acara senamnya.

Selang beberapa saat kemudian iapun berbalik kembali ke basecamp catur, dimana atlet lainnya masih terbuai dalam mimpi malam. Esok harinya, suasana pagi tim Aceh Tengah dipenuhi tawa. “Ne Wandi belek! i buet ko aku. Ku pikir kelem ne nge soboh, rupen lo tengah kelem ilen. Hana nge i cegang ngi jema aku. Nge heran we pe, hana kati aku besesenam wani tengah kelem.

Kurang lebih artinya seperti ini (Aduh Wandi, kamu kerjai saya. Kupikir sudah pagi, rupanya masih tengah malam. Ini apa, ada orang yang meligat saya semalam. Mungkin orang itupun heran, kok ada yang senam di tengah malam,” sebut Surya sambil terbahak.

Ada satu lagi anggota dari tim catur ini yang berprilaku cukup unik (maaf nama tidak disebut). Mungkin karena panik akibat tim catur Aceh Tengah yang beberapa kali mengalami kekalahan dan ketinggalan poin dari lawan. Ia gerah dan lelah. Karena jarak tempat pertandingan ke basecamp cukup lumayan jauh dan harus menggunakan alat bermotor ia terpaksa mandi di lokasi pertandingan.

Anehnya ia tidak mandi dengan menggunakan gayung sebagaimana lazimnya untuk mengguyur tubuh, namun dia langsung nyemplung di bak toilet yang tersedia di sana. Ia kemudian berenang sebagaimana ikan di kolam yang luas. Entah betul atau tidak? Namun cerita ini mampu memuat tim catur asal Gayo Lut terpingkal-pingkal. [] Catatan: Irwandi MN.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here