Beranda BERITA Kisah Inspiratif: Manusia Jangan Menghakimi Melebihi Tuhan

Kisah Inspiratif: Manusia Jangan Menghakimi Melebihi Tuhan

BERBAGI

Catatan Bahtiar Gayo, dalam pristiwa sekitar 6 tahun lalu

ORANG yang salah bukan selamanya salah. Dalam memberikan penilaian kepada seseorang, jangan hanya dilihat hasil dari perbuatanya. Namun lihat juga dari proses perbuatan itu. Mengapa dia melakukan???

Saya pernah punya pengalaman menyelamatkan seorang pencuri di kebun , pada suata malam sekitar 6 tahun yang lalu. Dari awal saya dan dua teman saya, memperhatikan  gerak geriknya, pakaian dan penampilanya. Mengapa dia mencuri????  Kami sudah sepakat tidak akan menghakiminya. Saat dia akan membawa barang curianya kami  cegat.

Dia ketakukan dan akan lari. Tetapi saya dan dua teman saya meyakinkanya agar tidak lari.  Tidak akan kami hakimi.  Karena jalan larinya sudah terkepung, dia menyerah. Kami dudukan dia baik-baik, kami beri rokok dan minuman.

Akhirnya dia menangis menceritakan mengapa dia mencuri. “Anak dan istri saya kelaparan di rumah. Kami sering puasa. Anak saya yang kecil demam udah tiga hari, obatnya enggak ada,” katanya sambil menangis. Kebunya belum menghasilkan.

Kami tetap santun menanyakan keadaanya. “Apakah boleh kami buktikan kebenaran ucapanmu. Bolehkah kami lihat keadaan keluargamu,” tanya saya padanya. Spontan dia menjawab “boleh”.  Barang curian itu kami tinggalkan, kebetulan dia mencuri  barang milik saya.

Ketika saya melihat istri dan anaknya dirumah gubuk beralaskan bumi, dengan kondisi memprihatinkan, belum layak dikatakan rumah yang nyaman, tanpa sadar air mata saya menetes. Anaknya yang bungsu baru berumur 3 tahun, saya pegang kepalanya panas, demamnya tinggi.

Hati saya menjerit, “Ya Allah cobaanmu, karena terpaksa dia melakukanya. Namun bila dia dihakimi, bagaimana nasib anak dan istrinya?” batin saya terus berperang. Kebetulan Allah memberikan rejeki, saya serahkan uang untuk membeli beras dan buat  obat anaknya.

Saya juga memintanya untuk menjual barang saya yang diambilnya. Saat dia mengambil pokat milik saya yang sudah di dalam karung, saya berucap, “Jual pokat ini untuk tambahan belanja,” sambil saya pegang  pundaknya.

Apa yang terjadi???? Dia merangkul saya dan menangis. Sepengetahuan saya, hanya sekali dia mencuri di kebun saya. Kini dia sudah mandiri dan kami menjadi saudara. Ibadahnya kepada Allah juga baik, demikian dengan bermasyarakat. Ada sesuatu yang membuat saya risih dan sudah saya katakan tidak perlu seperti itu, dia ketika bertemu dengan saya, menjabat tangan saya sambil menciumnya.

Apakah mereka yang terlanjur salah akan selamanya kita pandang salah???  Mereka masih punya kesempatan memperbaiki diri, kita juga tidak sempurna selaku manusia, pasti banyak salahnya. Allah saja maha pengampun, lantas kenapa kita menghakimi melebihi Tuhan???? **Sumber: FB.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here