Beranda LIPUTAN HAJI

Jamaah Haji Aceh Lakukan Nafar Tsani

BERBAGI
Jamaah haji melempar jumrah pada hari pertama Idul Adha di Mina, Arab Saudi, Selasa (15/10). Umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha yang menandakan berakhirnya pelaksanaan ibadah haji dengan menyembelih hewan kurban. ANTARA /REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
Jamaah haji melempar jumrah pada hari pertama Idul Adha di Mina, Arab Saudi, Selasa (15/10). Umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha yang menandakan berakhirnya pelaksanaan ibadah haji dengan menyembelih hewan kurban. ANTARA /REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
Jamaah haji melempar jumrah pada hari pertama Idul Adha di Mina, Arab Saudi, Selasa (15/10). Umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha yang menandakan berakhirnya pelaksanaan ibadah haji dengan menyembelih hewan kurban. ANTARA /REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

BANDA ACEH – Jamaah haji Aceh seluruhnya melakukan nafar tsani yaitu berada di Mina selama tiga hari untuk melempar jumrah. Koordinator Subbag Humas Haji Aceh, H Akhyar MAg menjawab Serambi, Rabu (16/10) mengatakan, jamaah haji Aceh merupakan gelombang kedua, maka seluruhnya melakukan nafar tsani.

Tidak ada yang melakukan nafar awal, yaitu berada dua hari di Mina. Dan hari ini merupakan hari terakhir jamaah berada di Mina.

Berdasarkan laporan yang diterima dari petugas haji kelompok terbang (kloter) 1, kata Akhyar, ada satu jamaah asal Aceh yang menjalani safari wukuf, yakni Asmaini Amad Abib asal Aceh Timur, karena mengalami diabetes mellitus sehingga masih dalam perawatan tim medis.

“Jamaah tersebut diantar dengan mobil ambulans ke Arafah, setelah itu diantar lagi ke Mekkah untuk menjalani perawatan lanjutan,” ujarnya.

Sampai saat ini, kata Akhyar, pihaknya belum menerima laporan dari kloter lain terkait jamaah haji Aceh yang melakukan safari wukuf. Secara umum, menurutnya, kesehatan para jamaah dalam keadaan prima.

Sementara itu, dari Mekkah, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama RI, Anggito Abimayu mengatakan, jamaah haji Indonesia mempunyai hak untuk mengambil nafar tsani atau tiga hari tinggal di Mina, sehingga mereka tidak bisa dipaksa untuk mengambil nafar awal atau hanya dua hari di Mina.

“Saya dengar ada pengurus maktab yang mendorong jamaah untuk mengikuti nafar awal. Saya tegaskan bahwa jamaah punya kebebasan untuk memilih dan tidak bisa dipaksa,” katanya kepada wartawan Media Centre Haji di Mekkah, Selasa (15/10).

Ia tambahkan, Pemerintah Indonesia sudah membayar biaya pondokan dan makan selama tiga hari di Mina atau nafar tsani untuk semua jamaah Indonesia. “Kita bayar untuk nafar tsani semua. Jadi, kalau ada yang mau nafar awal berarti ada penghematan pengeluaran dari pengelola maktab, karena mereka tidak melayani makan untuk hari ketiga,” kata Anggito.

Terkait dengan pergerakan jamaah dari Arafah-Muzdalifah-Mina, Anggito mengatakan, baru kali ini jamaah Indonesia bisa seluruhnya masuk Mina pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Sementara tahun sebelumnya baru selesai prosesi itu sampai pukul 11.00 WAS. Bahkan dua tahun lalu baru selesai pukul 15.00 WAS. “Ini rekor, pergerakan jamaah dengan kendaraan bus berjalan lancar,” katanya.

Beberapa faktor yang menyebabkan lancarnya pergerakan jamaah itu, antara lain, karena bus yang digunakan semuanya relatif bagus, yaitu dari Rawahel dan Saptco, dua perusahaan otobus di Arab Saudi. Selain itu adanya koordinasi yang baik antara Nakoba (asosiasi perusahaan otobus setempat) dengan Panitia Penyelengggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Sementara itu, menurut data terakhir Siskohatkes Depkes, selama jemaah berada di Arafah untuk wukuf, sebanyak delapan orang wafat, 49 orang menjalani rawat jalan, sepuluh harus dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi. Sedangkan yang menjalani rawat inap sepuluh orang.

Anggito Abimanyu mengatakan, pihaknya berencana akan membeli sepeda motor (sepmor) untuk mengantarkan jamaah yang tersesat di Mina. “Kami berencana mau beli lagi tahun depan, jamaah tersesat menumpuk, (motor) akan ditambah sebanyak-banyaknya,” kata Anggito. Menurutnya, saat ini jumlah motor operasional pengantar jamaah tersesat di Mina hanay sebelas unit yang dibeli tahun 1980-an.

Sementara Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah sekaligus Kepala Satuan Tugas Mina, Akhmad Jauhari mengatakan, penambahan tersebut akan dilakukan jika sisi legalitas kepemilikannya memungkinkan.

Menurutnya, motor pengantar jemaah tersesat itu penting, karena mobilisasi jamaah di Mina sangat tinggi sehingga potensi jemaah tersesat sangat besar.

“Mobilisasi jamaah di Mina sangat tinggi sementara areanya sangat luas, perlu ada moda transportasi yang sangat cepat mengantar jamaah ke perkemahan jamaah terutama yang kondisinya agak lemah atau kelelahan,” kata Jauhari.

Selain mengantar jemaah tersesat, tambah Jauhari, sepeda motor itu juga digunakan mengantar jemaah yang tendanya jauh dan terpisah dari rombongan. Kesibukan para pengantar dengan sepeda motor itu cukup tinggi, karena dalam sekali waktu bisa beberapa jamaah datang ke kantor misi haji Indonesia di Mina untuk minta diantar ke tenda mereka.

Jamaah haji Indonesia terbagi dalam 72 maktab di Mina. Yang terjauh berada di Mina Jadid berjarak sekitar 7 sampai 9 kilometer dari lokasi melempar jumrah di Jamarat. (hs/ant)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here