Beranda KOLOM

Hari Ibu, Sepanjang Waktu

BERBAGI

DSC03315

Oleh : Dedy Saputra E

Ibu adalah orang paling berjasa dalam kehidupan perkembangan hidup anaknya, dimulai dari kandungan seorang ibu selalu menjaga untuk pertumbuhan anaknya. Ibu adalah sosok yang kuat, kasih sayang, mandiri dan pembrani. Begitu sangat kompleksnya tugas sebagai orang ibu.

“Dalam kamus besar bahasa Indonesia : ibu artinya wanita yang telah melahirkan seseorang, panggilan takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum. Ibu diartikan bagian yang pokok (besar, asal dan sebagainya), ibu diartikan juga yang utama, yang terpenting.

Meskipun terdengar terkadang klise, tugas dan sanjungan untuk seorang ibu sangatlah tiggi, bahkan untuk diperingati dalam satu hari sangatlah tidak pantas untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada seorang ibu.

Hakikat kehidupan lebih terasa apabila sosok ibu bukan hanya menahankna kodrat melahirkan, namun juga melahirkan generasi yang berkarya. “sebab itu berbuat baiklah kepada ibu mu, karena sehebat apapun kebaikan kamu berikan kepada ibu tidak akan bisa membalas jasanya.

tetapi perbuatan baik kepada ibu adalah suatu tugas dan kewajiban seorang anak atas perintah Tuhan” seperti yang di jelaskan dalam Al Quran yang artinya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra(17):23). Dari perintah tersebut jelaslah ibu diletakan dalam hal utama dalam berbakti setelah seorang bapak.

Tanggal 22 Desember hampir , seluruh masyarakat Indonesia merayakan hari Ibu. Sebuah peringatan terhadap peran seorang perempuan dalam keluarganya, baik itu sebagai istri untuk suaminya, ibu untuk anak-anaknya, maupun untuk lingkungan sosialnya. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.

Penetapan Hari Ibu ini diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Nyai Achmad Dahlan dan lain-lain. Selain itu, bahkan banyak pendapat hari Ibu juga merupakan saat dimana kita mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu. Berbagai kegiatan dan hadiah diberikan untuk para perempuan atau para ibu, seperti memberikan kado istimewa, bunga, aneka lomba untuk para ibu, atau ada pula yang membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Tidak ada dalam peringatan umat islam kita peringatan hari Ibu pada waktu tertentu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita

untuk berbuat baik. Nabi shallallahu‘alaihi wasallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali lalu bapakmu.” Jika hari ini semua individu di Indonesia memperingati hari ibu dengan sangat mengagungkan seorang ibu, tentunya hal itu tidaklah pantas hanya dilakukan dalam satu hari saja, karena hal yang sangat aneh jika ucapan terima kasih hanya di rayakan hanya satu hari sedangkan jasa seorang ibu tidak akan pernah terbalaskan.

Berbakti kepada ibu adalah kewajiban sepanjang waktu bukan hanya sesaat yang mana terkadang kita lupa bahwa ibu sebagai seorang individu yang cukup ideal sebagai manusia untuk mendidik seorang manusia tumbuh dan mandiri. Hal ini cukuplah pantas berbakti kepada ibu di peringati sepanjang waktu bahkan setelah mereka tiada, kebaktian kita terhadap orang tua tidak akan bisa putus dengan cara mendoakannya.

Karena salah satu amal yang diterima setelah kematian adalah doa anak amal saleh. Ketika mereka masih ada di dunia mendoakan dan berbakti adalah kewajaran bagi setiap orang yang etiologis untuk membukakan cakrawala dalam sikap psikoterapi dalam mengabdi.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here