Beranda ACEH TENGAH

Giok Gayo Dalam Balutan Sejarah

BERBAGI

SENYAP dari pembahasan publik, bukan berarti hasil kekayaan alam bumi Gayo yang satu ini hilang dari peredaran. Keberadaannya pernah mencuat kepermukaan meski kini hanya menyisakan segelintir orang yang bergelut jadi penghobi setia.

Adalah batu giok Gayo. Hasil alam dari daerah “surga” kopi yang beberapa tahun lalu pernah booming kepermukaan. Namun, seiring redupnya demam akik di nusantara, kini giok asal Aceh Tengah ini terkesan tinggal pamor.

Sejenak melongok ke belakang, tepatnya di 2014-2015 keberadaan harta karun asal gayo ini pernah menguasai top isu di sana. Gaungnya sempat mengalahkan isu politik, sosial, budaya dan ekonomi. Saban hari bukan saja kalangan dewasa yang bercerita batu mulia ini namun remaja dan anak-anak banyak terhipnotis.

Tahun tahun keemasan giok gayo masa itu juga menjadi sarana sirahtuhrahmi antar warga. Seolah tiada hari tanpa cerita giok. Mulai dari kalangan awam hingga pejabat. Nyaris cerita batu giok menjadi topik utama. Bukan saja di seputar kota tapi  merambah hingga kepelosok daerah dingin itu.

Bius batu giok kala itu, telah melibatkan hampir segala kalangan. Selain pembeli yang berdatangan dari luar daerah juga banyak warga yang nimbrung jadi pencari dadakan. Bahkan, ada yang banting setir dari petani kopi menjadi pemburu batu mulia karena gaerah nilai jual menjanjikan.

Kala itu, pusat perhatian masyarakat sejenak terbawa kegilaan akan batu mulia tersebut. Sejumlah areal lokasi potensi giok mulai disasar. Kp.Linge, Kp. Gemboyah, Kp. Jagong Jeget, Kp. Wih Keruh, Kp. Kala Kekelip dan lokasi lainnya kerap “diserbu” pemburu giok. Detak keramaian pengunjung kian berdenyut saat itu bak tak mengenal waktu, baik siang maupun malam.

Adapun jenis batu yang mereka buru yakni; nephrit jade (giok) asli Gayo dengan ciri berwarna hijau bertotol bintik hitam. Blackjade berwarna hijau tua bercampur hitam. Lain itu, ada jenis solar (coklat bening) idocrase lumut, belimbing (kuning bercampur hijau dan putih) dan varian batu cempaka atau sulaiman asal Kp. Isaq.

Harga batu permata hasil kekayaan alam di salah satu kabupaten di Provinsi Aceh ini terkadang seperti tidak masuk akal, mulai ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah, tergantung keindahan, kelangkaan, kekerasan (skala mohs) dan besar kecilnya bongkahan.

Lain itu, fenomena giok gayo juga ketika itu telah mengundang ratusan pengrajin dadakan. Pembuat batu cincin bisa dijumpai dimana saja bagi seseorang bila menginjakan kaki di Gayo Lut. Mereka membuka lapak kerajinan bukan saja di kaki lima di seputaran kota, namun sudah menjamur sampai di ujung pedesaan.

Kini 4 tahun berlalu. Pamor giok gayo tidak seindah dulu. Keberadaannya sepi dari pembahasan dan peminat. Pembelinya turun drastis. Apakah batu mulia ini masih ada?…

Sulit menjelaskan secara rinci apakah kemilau giok gayo ini masih menggeliat seperti beberapa tahun lalu. Namun amatan penulis, segelintir orang masih ada yang tekun menjalankan hobbinya, bercengkrama dengan pesona giok gayo.

Basaruddin misalnya, warga Aceh Tengah ini masih meluangkan waktunya membuat dan menjual aksesoris kerajinan tangan berbahan batu giok. Meski peminatnya sepi, namun hasil karyanya ada saja yang membeli.

Lain pula dengan Aman Syifa warga Kp. Kayukul, Kec. Pegasing,  Aceh Tengah, ia masih menggeluti tradisi berburu giok. Seolah tak perduli dengan kondisi permintaan pasar yang sedang lesu, dirinya kerap mencari batu indah ini untuk bahan koleksi.

Di Master Coffee miliknya, ratusan bongkah batu giok tersimpan sebagai bahan kolektor. Sebagian diantaranya ada yang dipajang untuk memanjakan tamu yang berkunjung ke galerinya.

Sementara jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Nun diujung sana, dibeberapa tempat potensial mengandung giok seperti Gemboyah, Kala Ili dan Kala Kekelip  juga masih ada warga yang mengumpulkan bahan bongkahan.

Walau pelakunya hanya segelintir orang, tapi masih ada diantara mereka yang berburu pesona batu mulia untuk dijual lagi bagi para peminat yang kadang kala khusus datang ke sana guna mendapatkan bahan incarannya.

Akankah keberadaan giok gayo sebagai bagian dari kekayaan  alam “tanah surga” ini mampu kembali bangkit serta tenar mengikuti arus zaman? Atau menjadi lapuk dalam catatan sejarah, membatu dalam ingatan manusianya. Wallahu a’lam bishawab. Biarlah waktu yang menjawab.[]**Irwandi MN (foto: koleksi A.Syifa)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here