Gila! Hutan Leuser Akan Dihabisi Pemerintah Aceh, Mari Kita Tolak

976

AKTIVIS lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Hutan Aceh mengeluhkan kesulitan mendapatkan detail desain tata ruang Aceh yang baru. “Kita telah berbulan-bulan meminta dengan hormat dan mencoba bekerja sama dengan Pemerintah Aceh untuk lebih transparan.

Namun rincian usulan tata ruang yang baru tampaknya masih rahasia dan dijaga sangat ketat,” kata Efensi, Juru Bicara Koalisi Hutan dalam siaran persnya tertanggal 1 November 2013. Usulan tata ruang Aceh yang baru telah menimbulkan kontroversi di kalangan konservasionis. Bahkan, belum lama ini surat kabar Amerika The New York Times juga mengkritik kebijakan itu.

Penyebabnya, usulan tata ruang baru itu disebut-sebut akan merusak sebagian hutan lindung untuk dialihfungsikan sebagai kebun sawit dan konsesi tambang. Gubernur Aceh Zaini Abdullah sudah pernah membantah alih fungsi hutan itu akan merusak hutan Aceh.

Untuk menghindari kontroversi lebih jauh, Koalisi Hutan Aceh mencoba meminta draft usulan. Namun, datanya tidak pernah diberikan. Itu sebabnya, pada 1 November lalu, dalam pertemuan dengan perwakilan masyarakat Aceh dan pemerintah pusat, kelompok pegiat lingkungan kembali meminta Pemerintah Aceh untuk merilis usulan tata ruang dimaksud.

“Kami semua sangat frustasi dengan kurangnya transparansi dalam proses ini, dan prihatin bahwa kawasan Ekosistem Leuser akan dipotong oleh jalan dan kayunya dibolehkan untuk ditebang. Ini akan menjadi bencana untuk Aceh. Tangkapan air hutan sangat penting untuk peroduksi padi Aceh. Sejauh yang kita lihat, rencana baru ini bukan untuk kepentingan rakyat Aceh. Perusakan hutan ini semata-mata untuk manfaat jangka pendek dari para elit,” kata Effendi.

Effendi juga mengutip pernyataan Husnan, Staf Bappeda Aceh. Menurut Effendi, Husnan mengatakan pemerintah sedang berusaha agar rencana tata ruang itu mendapat persetujuan pemerintah pusat sebelum akhir 2013. “Jika pemerintah Aceh serius memikirkan kepentingan rakyat, rencana tata ruang akan melindungi aset yang paling penting yaitu lingkungan Aceh untuk generasi mendatang, bukan untuk menghancurkan hutan kita untuk mengisi kantong-kantong segelintir orang kuat,” kata Effendi.

Sebelumnya, belum lama ini sebuah perusahaan pemburu emas dari Kanada mengumumkan telah bekerja sama dengan unsur pemerintah. Perusahaan bernama East Asia Minerals itu bahkan melobi para pengambil kebijakan agar mengubah klasifikasi lokasi tambang emas di Pidie yang berada di kawasan hutan lindung agar diubah menjadi hutan produksi. Lokasi tambang itu berada di Geumpang, kawasan perbukitan yang pernah dilanda banjir bandang dua tahun lalu.[]

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*