Gantungkan Hidupmu Hanya Pada Allah

thumb.php

Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu.Bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah

PASCA pemilihan umum (Pemilu) legislatif, banyak diberitakan perilaku orang-orang yang gagal masuk parlemen. Ada-ada saja perilakunya. Ada yang frustasi, stress, marah dan kecewa. Bahkan ada yang memungut kembali uang yang telah diberikan pada konstituen saat mengetahui dirinya tak lolos ke parlemen.

Pemandangan semacam ini tentu sangat memalukan dan memilukan. Tetapi, ini juga membuka mata hati kita bahwa akhlak sebagian orang saat ini sudah benar-benar merosot bahkan pada tingkat tidak peduli pada azas kepatutan.

Tentu masih banyak lagi keprihatinan lainnya yang mengindikasikan bahwa betapa sebagian manusia di zaman sekarang lebih mempercayai harta dan tahta sebagai sebaik-baik tempat bergantung, sehingga orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya dengan beragam cara dan sarana.

Pada akhirnya waktu pun membeberkan, bahwa betapa bergantung kepada harta dan tahta tidak selalu berakhir bahagia. Kita bisa saksikan dari betapa banyakna pejabat negara yang kala memasuki usia senja harus mendekam dalam penjara.

Bahkan, kini orang yang tadinya menduduki jabatan strategis dan bergengsi dalam pandangan awam manusia, ada yang tidak terpilih kembali dan sebagian harus bolak-balik pengadilan untuk urusan korupsi.

Sugguh ini adalah satu fakta dimana sebagian manusia telah melupakan Allah, sehingga tidak bergantung kepada-Nya, sebaik-baik tempat bergantung.

Dalam Kitab Al-Hikam, Syeikh Ibn Athaillah berpesan, “Permintaanmu kepada-Nya berarti suatu tuduhan terhadap-Nya. Permintaanmu bagi-Nya (agar Allah mendekatkan dirimu) menunjukkan engkau jauh dari-Nya. Engkau meminta kepada selain-Nya, berarti engkau tidak punya rasa malu kepada-Nya. Dan engkau meminta dari selain-Nya, disebabkan karena engkau jauh dari-Nya.”

Artinya, perilaku-perilaku yang terjadi pada diri seseorang dan perilaku itu tidak semestinya terjadi menunjukkan kepada siapa seseorang itu bergantung. Jika kepada Allah mereka bergantung, tentu tidak mungkin mereka melakukan tindakan yang tidak sepatutnya. Tetapi jika kepada selain-Nya, maka ketidakpatutan pun menjadi satu keniscayaan baginya.

Allahu Al-Shomad

Mungkin setiap Muslim akrab dan hafal dengan ayat kedua dari Surah Al-Ikhlas ini, Allahu Al-Shomad yang artinya, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala urusan.

Mengenai penjelasan dari ayat tersebut Ibn Katsir menukil pendapat Ibn Abbas, “Yakni Rabb yag bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan dan permintaan mereka.”

Dengan demikian, tidak patut seorang Muslim berharap selain kepada Allah. Karena jika itu terjadi, maka sungguh ia telah melupakan ayat Allah dan lebih jauh dari itu, ia telah membawa hidupnya sendiri pada kehinaan dan kesengsaraan.

Dalam sejarah itu bisa kita lihat dari perilaku Tsa’labah, seorang Muslim di masa Rasulullah yang meyakini hidupnya akan bahagia hanya apabila ia memiliki banyak harta. Hingga ia teramat kikir disebabkan harta yang dimilikinya. Sampai pada akhirnya harta itu sirna kembali dan ia tidak memiliki harga diri lagi.

Pesan Nabi Muhammad

Untuk itu, sebagai Muslim kita wajib mengambil pelajaran atau ibrah dari apa yang terjadi di zaman sekarang sembari terus menguatkan pemahaman dan keyakinan kepada ajaran Islam secara sungguh-sungguh.

Berkaitan dengan masalah setiap Muslim mestinya bergantung hanya kepada Allah, Rasulullah juga pernah menyampaikan satu pesan mulianya kepada kita semua sebagi umatnya.

Dari Ibn Abbas radhiyalahu anhu, dia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shallahu Alayhi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai Ghulam, sesungguhnya aku ingin mengajarkanmu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu dengan seuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Ahmad).

Apabila pesan Nabi Muhammad Shallahu Alayhi wasallam, dapat kita amalkan dengan sebaik-baiknya, maka tidak perlu ada kekhawatiran dalam hidup kita, karena Allah pasti akan menolong kita baik di dunia maupun akhirat.

Di samping itu, kita akan lebih bersemangat dalam menjalankan tugas kehambaan kita baik dalam konteks ibadah maupun ikhitar dalam mencari karunia-Nya untuk kehidupan dunia kita sendiri dengan cara yang halal, terhormat dan bermartabat.*

Rep: Imam Nawawi

Editor: Cholis Akbar

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*