Beranda ACEH TENGAH Gamifest 2018 Terus Disorot

Gamifest 2018 Terus Disorot

BERBAGI

Takengen (LeuserAntara) : Pelaksanaan Gayo Alas Mountain Internasional (Gamifest)  2018 terus disorot dari berbagai sisi. Ada yang mengatakan ini pintu masuk untuk pembangunan kawasan tengah tenggara Aceh. Namun ditinjau dari konsep pagelaran acara masih jauh dari harapan. Level internasional, tapi bergaya muatan lokal.

“Sisi lain terkesan pelaksanaannya setengah hati. Gamifest kali ini hancur hancuran, konsep panggung bertolak belakang dengan stand pameran. Level acara internasional tapi tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai. Apagi kondisi lapangan berlumpur dan tidak melibatkan warga lokal,” kata Waladan Yoga pemuda Gayo kepada LeuserAntara. com, Rabu (19/9).

Seharusnya, lanjut Waladan, jika level acaranya internasional hal-hal yang tidak diharapkan dapat langsung diatasi dengan berbagai cara. Pun begitu ada sisi positif lainnya, banyak pedagang yang mengais rezeki di sana. Meski nuansanya tak jauh beda dari pasar malam, namun geliat tersebut baru hadir di acara internasional saat ini.

“Gamifest ini juga telah menyebabkan lapangan Musara Alun  yang baru dikerjakan hancur berantakan. Infonya, sebelunya Pemda Aceh Tengah sudah usulkan ke pihak provinsi agar pelaksanaan event ini dipusatkan di sana. Ada tempat alternatif yang bisa digunakan.”

“Dalam hal ini Pemda Aceh Tengah menyarankan agar tempatnya dipindahkan saja ke sisi Danau Lut Tawar. Namun sepertinya ada yang ngotot pelaksanaannya harus di lapangan Musara Alun. Ya, mungkin acara ini adalah instruksi presiden? Jadi kengototan  itu yang akhirnya dibenarkan,” sesalnya.

Dampak dari itu, tambahnya, Gayo (Aceh Tengah) sebagai tuan rumah malu bukan main. Acaranya level internasional tapi terkesan hanya setingkat klas kabupaten. “Jika begini model acaranya maka ngapain harus berlebel internasional? Tak nampak bagian mananya yang menyerupai event berskala dunia,” ucapnya.

Lainnya, undangan untuk sekup pengunjung tidak ada yang berasal dari negara lain. Seharusnya ada meeting khusus dengan pelaku Internasional. Sementara, pelaksanaan Gamifest menurut sumber Anggaran yang ada berasal dari APBA tahun 2018. Namun sayang anggaran besar tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan masyarakat.

“Saya kira jika tujuan utamanya adalah untuk percepatan pembangunan kawasan Gayo – Alas, masih jauh dari harapan. Tak usahlah harus dipaksakan acara Gamifest yang konsepnya seperti ini. Sama sekali tidak menarik bagi khalayak  internasional. Ngak usah orang internasional warga lokal saja kadang susah untuk hadir,” sebut Waladan Yoga.

Sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari panitia Gamifest terkait sejumlah persoalan yang muncul terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Saat hendak dikonfirmasi via saluran seluler pihak panitia tidak mengangkat telepon. [] (Lap. Irwandi MN)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here