Beranda ACEH TENGAH Gairah Arabika Gayo Dari Pedalaman Aceh

Gairah Arabika Gayo Dari Pedalaman Aceh

BERBAGI

KOPI arabika gayo merupakan anugerah Sang Pencipta yang menjadi napas mayoritas rakyat di pedalaman Provinsi Aceh. Selain di Aceh Tengah hamparan batang berbuah cerry merah ini membentang luas di Bener Meriah. Bahkan kini mulai dibiakkan di Gayo Lues.

Di negeri “petro kopi” ini sekitar 80 persen rakyat bergantung dari komoditi unggulan tersebut. Meski ada yang bercocok tanam jenis palawija, namun pada umumnya para petani saban hari lebih dominan bercekrama dengan biji penghasil kafein itu.

Alam subur serta iklim tropis yang berada di ketinggian  700-1700 meter dari permukaan laut (DPL), menyebabkan tumbuhan primadona rakyat Gayo ini berkembang pesat di sana. Mulai dari zaman penjajahan kolonial Belanda, hingga kini ribuan hektare lahan kopi masih jadi tambatan hidup manusia yang menetap di Gayo Lut maupun di lembah gunung merapi Burni Telong.

Selama ini ada beberapa jenis kopi yang digeluti para petani di kabupaten berhawa sejuk itu. Selain jenis robusta dan arabika, juga mulai muncul varietas baru, kopi lampung. Meski jenis kopi yang disebut terakhir perkembangannya masih di kalangan terbatas, namun keberadaannya mampu memberi warna tersendiri dalam menambah kekayaan hasil alam di Gayo.

Buah dengan dominan  cita rasa pahit ini sendiri, memiliki sejumlah proses sebelum dipasarkan ke konsumen. Dari awal tanam hingga tiba masa panen, tanaman perdu itu membutuhkan waktu rata-rata, 2-3 tahun lamanya. Hal itu tergantung dari jenis kopi yang ditanam, ketinggian lahan (potensi 900-1500 meter DPL) serta kesuburan tanah.

Sementara, sejumlah tahapan “wajib” dilakoni petani sebelum kopi disulap menjadi rupiah. Lazimnya dalam setahun kopi membutuhkan beragam perawatan, mulai dari membersihkan gulma, perawatan batang, sampai tiba musim mungutip (memetik biji). Kemudian setelah usai di panen dilanjutkan dengan menggoer(menggiling), mencuci gabah, hingga menjemur labu (greenbeans).

Tidak selesai sampai di situ. Bila biji kering hendak dijadikan bubuk, biasanya warga lokal di sana kerap mengolah siti kewe (sebutan lain kopi-Gayo) secara tradisional dengan menyangrai (gongseng) di atas tungku perapian. Namun, ada juga yang mengikuti trend, olah express dengan cara roasting. Hasil citarasa juga tentu berbeda, tapi soal satu ini kembali ke masalah selera si penikmatnya.

*Kopi Gayo Untuk Konsumen Dunia

Perkembangan pasar kopi gayo mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Hasil bumi dari tanah “surga” di bagian wilayah tengah Aceh ini bukan saja dapat dinikmati pencinta kopi lokal. Namun kini sudah dikenal dan disukai konsumen domistik, nasional bahkan dunia.

Hal tersebut juga turut mempengaruhi arus permintaan pasar. Mulai dari eksportir, agen pembeli lokal hingga ke akar rumput kerap nimbrung membahas tentang tingginya kebutuhan akan komoditi kopi. Malah, ketika musim panen melimpah, geliat roda perekonomian mengalami grafik peningkatan. Pundi-pundi  lembaran “dolar” – pun mulai mengalir ke kantong pelakunya.

*Gairah Seduan Modern

Seiring dengan geliat perkembangan pasar kopi arabika gayo menuju tangga pasar dunia, di Aceh Tengah dan Bener Meriah sendiri saat ini mulai tumbuh cafe-cafe bernuansa seduan modern. Disebut ala era modern karena sebelum disajikan biji kopi terlebih dahulu melewati rongga produksi mesin espresso. Dipridiksi, saat ini ada ratusan lapak usaha cafe “bertabur”  di central penghasil arabika itu.

Bagaimana dengan pertumbuhan kopi ala tradisional? Meski mencuat trend ngopi di cafe-cafe sejak beberapa tahun terakhir, namun pola mencicipi cita rasa kopi ala warung tetap menggeliat. Ke dua wadah bentuk usaha ini tumbuh harmonis berdampingan di sana. Ada pangsa pasar tersendiri bagi pelaku dalam memikat konsumen pecandunya.

Mungkin bercerita kopi tak akan pernah ada akhirnya bagi penikmat kafein sejati, khususnya di bumi “Serambi Makkah” ini. Di negeri 1001 warung kopi itu, ngopi sudah menjadi bagian dari tradisi hidup. Tak lengkap rasanya membahas politik, seni, sosial, budaya tanpa “ditemani” secangkir kopi. Tidak percaya? Datanglah ke sana, di setiap sudutnya dengan mudah ditemukan jejeran tempat untuk meminum kopi. [] (Irwandi MN) 

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here