Dugaan Tenaga Kerja Asing Di Hutan Pinus Gayo Belum Terendus

Takengen (LeuserAntara) : Meski pernah dilakukan razia terhadap tenaga kerja asing illigal di sekitar hutan pinus di Aceh Tengah,  namun indikasi keberadaan mereka sejauh ini belum terendus dan terpantau oleh pihak dinas.

“Tenaga kerja asing ada di daerah ini. Namun yang terdata hanya mereka yang bekerja di perusahaan, jumlahnya 46 orang. Selebihnya seperti kemungkinan mendiami dan bekerja di hutan pinus belum terpantau,” kata Kadistranaker Aceh Tengah, T Alaidinsyah, Selasa (5/6) di Takengen.

Ditambahkan, selain tenaga kerja asing di PLTA yang sudah terdata, ada beberapa perusahaan telah disurati dinas untuk memperoleh data resmi terkait penempatan pekerja luar. Namun, sejauh ini sebagian besar perusahaan belum mengindahkan surat “imbauan” dari dinas.

“Kalaupun ada tenaga asing yang dipekerjakan di sekitar hutan pinus, kami tidak dapat menindak. Fungsi kami di kabupaten hanya pembina, sedang pengawasan sepenuhnya kewenangan provinsi,” jelasnya.

Lain itu, lanjutnya, penempatan tenaga asing di suatu daerah biasanya dilakukan setelah adanya semacam MoU antara pemerintah di Jakarta dengan pihak perusahaan asing. Di mana dimungkinkan salah satu isi kesepakatan antara kedua belah pihak yakni harus menerima tenaga kerja asing yang dipekerjakan oleh perusahaan.

“Jadi kami dari dinas tidak dapat mempridiksi apakah ada tenaga asing illigal dan berapa jumlahnya di daerah ini. Pun begitu jika ada laporan dari warga tentang keberadaan mereka, kami bersama tim terpadu akan turun kelapangan untuk memastikan atau menindak,” ungkap T Alaidinsyah.

Bersamaan Korwil I Pengawas Disnaker Mobduk Aceh, Dody Harmides, yang membawahi 5 kabupaten; Biruen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Kute Cane membenarkan, untuk di Aceh Tengah tenaga kerja asing yang terdata secara resmi  46 orang dengan  dokumen lengkap. Sementara untuk di hutan pinus tidak ditemukan adanya tenaga kerja asing illigal.

“Tahun lalu (2017) kami menerima laporan tentang adanya 15 orang tenaga kerja asing yang dipekerjakan di hutan pinus, namun setelah kami turun ke lapangan tidak ditemukan. Dari itu kami berharap jika ada temuan untuk membuat laporan, sehingga dapat terpantau,” ujarnya.

Ditanya apakah pernah dilakukan deportasi terhadap pekerja asing illigal yang ditemukan di wilayah tugasnya? Dody menyebutkan, cukup banyak, bahkan belum lama ini pihaknya telah memulangkan pekerja asing yang beraktifitas di Aceh Tengah dengan menggunakan visa wisata tujuan Bali.

“Kenapa tidak dipublis? Karena kami khawatir hal ini akan mempengaruhi iklim investor maupun minat wisatawan ke daerah ini,” paparnya. [] (Laporan: Irwandi MN)

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*