Dampak Kata “Jangan” Yang Sering Diucapkan Orang Tua Bagi Mental Anak

Secara etimologi kata “mental” berasal dari bahasa Yunani, yang mempunyai pengertian sama dengan pengertian psyche, artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.

Secara terminologi para ahli kejiwaan maupun ahli Psikologi memiliki perbedaan dalam mendefinisikan “mental”.

mendefinisikan mental adalah paduan secara menyeluruh antara berbagai fungsi-fungsi psikologis dengan kemampuan menghadapi krisis-krisis psikologis yang menimpa manusia yang dapat berpengaruh terhadap emosi dan dari emosi ini akan mempengaruhi pada kondisi mental.

Menurut bapak psikologi sigmund freud dalam teori psikoanalisa yang terbentuk pada kepribadian, masa kanak-kanak sangat mempengaruhi mental anak di masa dewasa.

Apa yang terjadi di masa kecil nya jika salah pengasuhan maka akan berdampak pada mental anak.
Saat ini pengasuhan yang dilakukan para ibu dapat berdampak pada mental anak di masa depan.

Salah satunya yaitu membatasi aktivitas anak dengan kata jangan, ibu sering kali melarang anak nya untuk beraktivitas yang menurut ibu nya akan berbahaya bagi diri (fisik) anaknya.

Membatasi anak tidak baik tapi melarang dengan cara memberikan alasan yang mudah ia mengerti akan lebih baik dari pada mengatakan “jangan” tapi tidak menjelaskan sebab-akibatnya.

Ia tidak akan bisa bereksplorasi sehingga menimbulkan kebingungan dan takut melakukan kegiatannya, ia akan berperasa apakah semua hal yang ia lakukan salah.

Wajar seorang ibu khawatir pada anaknya tapi ibu juga harus mengetahui yang ia lakukan salah, seperti melarang anak naik pohon karena takut jatuh, seharusnya ibu membiarkan ia naik pohon tapi di bawah pengawasan orang tua, kita juga harus melihat situasi dan kondisi nya seperti apa pohon itu apakah pohonnya tinggi, banyak serangga atau berduri yang dapat membahayakan anak, kita harus memberi ia pengertian akan bahaya nya baru melarang nya.

Jangan langung melarang dia dengan mengatakan” jangan naik nanti kamu jatuh” seharusnya “dipohon itu banyak serangganya nantik kamu digigit serangga nya terus jatuh berdarah kan sakit “ cara penyampaikan yang dapat di mengerti anak akan lebih baik pada mentalnya di banding kan langsung melarang nya dengan kata jangan itu, jangan ini dan lain sebagainya.

Contoh lainnya memegang api karena dapat membakar, dan juga membatasi anak untuk bermain seperti bermain bola ketika matari terlalu panas dan hujan, ibu tidak tau dampak pada psikis mereka apa, anak yang sering di batasi akan menimbulkan rasa ketidak percayan, kurang mandiri, tidak pede, hingga susah bersosialisasi dengan masyarakat.

Anak pada umumnya memiliki rasa penasaran yang sangat besar tapi ibu membatasi nya, seperti melarang anak memegang api padahal jika tangan anak tersebut mendekati api dan ia merasa kan panas secara otomatis tangan nya akan menghindari api, anak mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga ia tidak akan lagi mengulangi hal tersebut.

Sehingga anak yang seperti ini dia akan cenderung lebih berani dari pada anak yang langsung di marahi oleh orang tua nya jika dekat dengan api.

Memarahi anak akan menimbulkan rasa tidak berani,kebingungan, cendrung pendiam dan lain sebagainya
Ada beberapa cara untuk melarang anak tanpa gunakan kata “jangan” antara lain:

1. Berikan alasan
2. Pakai isyarat berhenti
3. Cari larangan pengganti yang kreatif
4. Jangan terlalu melarang
5. Alihkan perhatiannya
6. Jika anak melakukan kesalahan,

seharusnya orang tua tidak langsung memarahinya apalagi menghukumnya.
Seorang ibu bijak, ia tidak akan membatasi aktivitas anak dengan kata “jangan”, melainkan mengawasi anaknya dan memberi perhatian.

Penulis; DESI SALVINA mahasiswi unsyiah fakultas kedokteran prodi psikologi angaktan 2017

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*