Beranda ACEH TENGAH

Cerutu Gayo “Siap Saingi” Negeri Fidel Castro

BERBAGI

HARI itu di ruangan tidak terlalu lebar, ada seorang lelaki paruh baya sedang memainkan jemari terampilnya. Bak bermain piano, ia begitu asyik melinting daun kering di atas sebuah meja yang cukup sederhana.

Daun yang sudah mengering tersebut , satu persatu diambilnya dari keranjang yang berada tepat di sebelah kiri dari posisi duduknya. Dengan ditemani secangkir kopi arabika, tarian jemari pria ini mulai menghentak. Ia membuat sesuatu.

Ada aroma khas tembakau murni menebar memenuhi ruang kedap udara yang kian kentara menusuk indra penciuman di area produksi olah tembakau ini. Ya, seni meracik cerutu sedang berlangsung di sana. Di rumah kayu yang beralamat di Kampung Kayukul, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.

Salmi demikian orang setempat memanggil pria peracik cerutu ini. Dari penuturannya, ia mulai berinovasi menekuni bisnis tersebut sejak setahun lalu (2019) setelah melakukan serangkaian uji coba sebelum diperkenalkan ke penikmat nikotin.

Butuh enam bulan lamanya bagi Salmi untuk belajar dan mulai mengolah tembakau asli Gayo ini sebelum dipasarkan menjadi cerutu berkwalitas tinggi yang mulai digandrungi penikmat setianya.

Bukan saja di Aceh Tengah dan Bener Meriah, rokok berbentuk jumbo itu juga mulai diorder para pelanggan asal luar daerah. Diantaranya seperti; Banda Aceh, Jakarta, Bontang, Medan dan sejumlah kota lainnya di Indonesia.

Melihat prospek pemasaran yang kian menggeliat, tidak menutup kemungkinan tembakau dari daerah penghasil kopi arabika gayo ini ke depannya akan mampu menguasai pasar dunia sebagaimana cerutu Kuba yang digemari Fidel Castro sang presiden negara itu.

“Aroma cerutu produksi kami sangat beda. Kami mengolahnya dari tembakau pilihan tanpa saos. Pun begitu, cita rasanya sangat khas dan wangi, mungkin tidak bisa ditemukan di daerah lain,” ungkap Salmi.

Cerutu yang memiliki dua variasi warna, hijau dan coklat ini dibandrol dengan harga Rp15.000-Rp 500.000 per batang, tergantung besar atau kecilnya bentuk racikan daun tembakau yang dilinting.

Sedangkan memenuhi permintaan pasar, produk cerutu dengan merk “Gayo Mountain Cigar” ini untuk sementara hanya mampu diolah sebanyak 150 batang per hari secara manual.[] **Oleh: Irwandi MN

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here