Ketika Camat Atu Lintang Jatuh Cinta Lagi Sama Siti Kewe

SORE itu mendung menggelayut di atap langit. Ada pertanda hujan segera turun. Namun di sebuah rumah berdesain rapi di sudut lorong, terdengar suara hiruk pikuk manusia. Entah apa dibicarakan. Mereka seperti Hanyut dalam cerita tersendiri, tanpa perduli suara alam di sekitarnya.

Sementara, diantara keramaian itu kerap terlihat bibir-bibir “merah” membasah, tersentuh cairan hitam menghiasi senyuman. Ya, mereka sedang mencicipi secangkir madu bumi Gayo yang perlahan mulai mengering dari wadahnya, meski sebagian masih bertabur asap karena baru disajikan.

Di lain sisi, terlihat sesosok yang tak asing bila seseorang menginjakkan kaki di lokasi ini. Dia adalah Erwin, pemilik Cafe ARB yang beralamat di Reje Bukit, Kec. Bebesen, Kab. Aceh Tengah. Saat disambangi penulis, pemilik usaha kopi arabika gayo ini sedang meroasting green beans menjadi serbuk layak konsumsi.

Sekilas tidak ada yang beda, melihat sosok Erwin dengan barista lainnya yang begitu lihai memainkan antara nalar dan kemahiran jari dalam mengutak atik mesin roasting untuk menetapkan suhu yang tepat dalam meracik hasil cita rasa kopi beraroma nikmat.

Namun, sosok Erwin pada dasarnya bukanlah barista “murni”. Ia abdi masyarakat yang kini dipercaya Pemda setempat sebagai camat di Atu Lintang (sebelumnya camat Celala).

Jeeeepret… cahaya dari lampu blitz kamera penulis, saat itu mengarah ke arah Erwin. Sedikit kaget ia langsung menyapa sambil tersenyum ramah. ” Yoh, kok di foto. Dari mana, tumben sudah di sini,” sapa Erwin beramah tamah ketika mengetahui ada kilatan cahaya mengarah ke dirinya yang berseragam dinas lengkap dan sedang fokus mengolah biji kopi.

“Beginilah keseharian saya. Di sela kesibukan ngantor, saya juga bantu-bantu mencari rezeki lain di cafe ini. Hitung-hitung sambil belajar mengeluti bisnis kopi,” paparnya.

Saban hari ada saja konsumen atau pelanggan yang datang untuk sekedar menikmati secangkir kafein di sana. Bukan saja dari kalangan pria, tapi kaum hawa juga tidak ketinggalan. Biasanya mereka datang khusus untuk memanjakan lidah, meneguk tetes demi tetes kopi espresso yang belakangan jadi trend baru di daerah dingin itu.

“Kopi gayo sudah mulai merambah ke penjuru dunia. Sangat sayangkan, jika peluang ini tidak kita manfaatkan. Apalagi daerah ini sudah menjadi pemasok bahan baku kopi dunia,” ucap Erwin.

Pria bersahaja ini bukanlah satu-satunya warga yang “jatuh cinta” pada siti kewe (nama lain kopi dalam sebutan bahasa Gayo). Namun, saat ini puluhan atau mungkin seratusan cafe bernuansa seduan modern mulai tumbuh berdampingan.

Bahkan, sektor tersebut, bukan saja digeluti para pengusaha, tapi sebagian   petani juga sudah mulai terjun bercengkerama dengan komoditi unggulan rakyat di negeri “petro kopi” ini. ***Mario Linge.

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*