Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru Tinjau Sungai Jahul

Blangkejeren (LeuserAntara): Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru bersama rombongan meninjau lokasi rawan banjir hulu sungai Penampaan, tepatnya di Desa Kute Bukit, Kecamatan Blangpegayon Kabupaten Gayo Lues Minggu (12/11/2017).

H. Muhamad Amru mengatakan, yang menjadi masalah setiap daerah kalau di musim kemarau air tidak ada, saat dimusim hujan banjir dimana – mana masyrakat.

Oleh sebab itu, masyarakat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPBD) harus ada sinkronisasinya, BPBD bukan hanya menyiapkan bahan konsumsi, seperti minyak dan indomi saja dan beronjong,” sebutnya.

“Masyrakat juga harus sadar diri untuk menjaga lingkungan daerahnya masing-masing, kayu di hulu sungai jangan ditebangi sembarangan, walaupun terpaksa menebangnya digantilah penyangga dengan tanaman lain seperti kemiri, kopi, coklat, karet dan kayu jenis dadap,” ujarnya.

H. Muhamad Amru menghimbau, kepada seluruh masyrakat Gayo Lues untuk meningkatkan kewaspadaan karena sewaktu – waktu bisa terjadi bencana alam, daerah kita pada umumnya wilayah rawan bencana alam, ia berharap masyrakat harus bekerja dengan BNPBD, Dinas Sosial serta masyrakat setempat.

Kasi Pencegahan BNPBD Irsan Firdaus mengatakan, akan membersihkan hulu sungai Kute Bukit sampai siap, badan jalan yang rusak tergerus air sungai juga kita timbun sesuai dengan perintah Bupati.

Sementara itu, salah seorang tokoh ulama setempat Tgk. Yusuf menjelaskan di Aih Jahul (Sungai Jahul) pada tahun 1969, pernah terjadi banjir bandang sekitar pukul 17.00 wib sore. Tgk Yusuf ketika itu masih remaja, tanpa hujan hanya terdengar suara gemuruh seperti suara bom, tidak lama kemudian air bercampur lumpur menerjang sawah dan kebun masyrakat Kute Bukit.

Menurut keterangan Tgk Yusuf ketika itu seperi dunia telah kiamat, korban yang hanyut Awan Banta bersama istrinya Rabuniah asal Pinang Rugup Kecamatan Rikit Gaib lima anaknya ikut hanyut yakni Simah, Santi, Sani, Selimah dan Edah.

Selanjutnya, Mukmin aman Sami selamat dalam musibah tersebut hanya istrinya Seripah asal Porang Kecamatan Blangkejeren dan anaknya Sami, Itah meninggal dunia dan ilah sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan.

“Warga lainya mengisahkan kejadian yang unik karena lumpur bercampur tanah serta kayu yang masih utuh diatas batang pokok kayu tersebut nampak kera berlompat-lompat dalam kondisi masih hidup ,” jelas Enap Inen Maah mengenang kisah 49 tahun silam.(TR)

 

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*