Besok, Seni Saman 10.001 Dipentaskan

Blangkejeren (LeuserAntara) : Tarian saman massal yang melibatkan 10.001 peserta akan digelar Pemda Kabupaten Gayo Lues pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren.

Sekretaris Daerah Gayo Lues H.Thaib, Sabtu (11/8/17) mengatakan, tarian saman massal melibatkan peserta mulai dari pemuda kampung sampai direkrut dari semua badan dan kantor.

Saman sendiri saat ini telah diakui oleh dunia sebagai warisan tak benda oleh sebab itu kelestarianya harus tetap dijaga.

Menurutnya, tarian saman merupakan seni tari tradisional masyarakat Gayo yang mendiami Gayo Lues, Aceh Tenggara dan masyarakat Gayo yang berada di Aceh Tamiang (Hulu), Aceh Timur (Lokop atau Serbejadi).

Sementara masyarakat Gayo yang berada di Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak memiliki tari saman, di sana lebih berkembang seni Didong.

Sejarah tari saman, secara pasti belum diketahui karena kurangnya bahkan belum adanya peneliti yang mengkaji masalah ini secara ilmiah. Selain itu faktor utama penyebab tidak diketahuinya asal usul tari saman disebabkan oleh rendahnya budaya tulis baca pada masyarakat Gayo pada masa lalu.

“Cerita mengenai saman hanya disampaikan dari mulut ke mulut (istilah orang Gayo kéné bekéné yang artinya konon kata orang),” sebutnya.

Tari saman berasal dari kesenian masyarakat Gayo pada masa dulu yang bernama “pok-ane” kesenian ini mengandalkan tepukan kedua belah tangan dan tepukan tangan ke paha sambil bernyanyi riang.

Ketika melihat itu, Syeh Saman terinspirasi untuk memanfaatkan kesenian ini untuk sarana mengembangkan syiar Islam. Untuk tujuan itu, Syeh Saman ikut dalam kesenian rakyat dengan menanamkan unsur-unsur ketauhidan.

Artinya, ulama ini melatih pemuda menari dengan diawali kata-kata pujian terhadap Tuhan. Oleh karena itu, sampai sekarang tari Saman selalu dimulai dengan syair tentang keagamaan.

Misalnya, “Mmm uo lesa, mmm uo lesa, uoooo lesa, uo lesa, lesalam aalaikum.” Jika diperhatikan, kata-kata terakhir ini adalah ucapan “assalamualaikum”. Ini menandakan ajaran agama Islam selalu menyapa orang dengan ucapan salam.

Selain itu ada juga saman dimulai dengan ucapan “hemmm lailalaho, hemmm lailalaho, lahoya sare hala lemha hala lahoya hele lemhe hele.”

“ Ungkapan ini tidak bermakna, tetapi jelas pada awalnya adalah ungkapan lailahailallah “ tukas Thaib. [] (TR)

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*