Beranda KOLOM

Artikel: Mencegah Amburadulnya Sistem Negara

BERBAGI

images

Oleh : Linda Rahmawati *)

Kasus aktual kecelakaan maut- disebut demikian karena ada 7 korban tewas di antaranya-di Jalan Tol Jagorawi Kilometer 8,2 pekan lalu merupakan potret keamburadulan negeri ini.

Keamburadulan Indonesia terpampang jelas dari keamburadulan kondisi lalu lintas. Mulai dari anak di bawah 17 atau 16 tahun yang belum berhak membawa mobil atau motor, jalan damai yang identik dengan ada uang perkara beres, proses pengasuhan anak yang cenderung membiarkan, hingga kemudahan proses pemberian SIM jatuh ke tangan yang belum berhak.

Gaya berangasan tampil berikut naluri-naluri binatang lainnya. Ditambah sikap permisif umum masyarakat, suburlah hukum rimba jalan raya.

Editorial sebuah media massa cetak terkenal di Indonesia tersebut sekedar untuk mendiskripsikan terjadinya situasi amburadul. Gambaran amburadul adalah tidak jelasnya lagi aturan yang berlaku, tidak adanya ketaatan WNI terhadap undang-undang dan peraturan yang berlaku dan tidak adanya kemampuan optimal penegak hukum menjamin tegaknya hukum.

Sayangnya media massa baik dalam pemberitaan ataupun editorial/tajuk rencananya hanya sampai pada diskripsi bahwa situasi Negara sudah amburadul, tetapi tidak membuat analisa mengapa situasi amburadul terjadi, juga media massa tidak melemparkan konsep-konsep pemikiran bagaimana memperbaikinya.

Lebih parahnya lagi dengan situasi amburadul tersebut, kalangan media massa sebagai lembaga control social tidak mampu menyebutkan lembaga negara yang mana yang ada dinegara ini yang bertanggungjawab dan berkewajiban menangani perbaikannya.

Para pengamat yang sudah lama memperhatikan gerak langkah reformasi yang berlangsung dewasa ini sebenarnya sudah lama berpendapat reformasi telah dilakukan dengan cara yang salah, karena tidak jelas dasarnya, tidak jelas apa yang harus direformasi dan tidak jelas arahnya;

Tidak jelas bagaiman acaranya dan tidak ada pimpinannya sehingga semua bergerak sesuai dengan keinginannya sendiri. Situasi amburadul yang terjadi saat ini adalah ekses, karena reformasi dilakukan tanpa rambu-rambu yang jelas.

Konkritnya untuk memperbaik isituasi adalah reformasi harus dikoreksi dengan mengembalikan lagil embaga MPR, dihidupkan lagi budaya membangun berdasar GBHN, difahami lagi bahwa sasaran pembangunan adalah orang Indonesia seutuhnya dan Bangsa Indonesia seluruhnya.

Artinya output pembangunan tidak hanya bersifat fisik lahiriah tetapi juga batin dan jiwanya. Kalau rakyat melihat seolah-olah situasi amburadulnya jalan toll sebagai sekedar akibat bran dalan, maka situasi yang lebih parah akan terjadi, yaitu amburadulnya situasi negaraini.

*) Penulis adalah mahasiswi pasca sarjana dan peneliti muda pada Pusat Studi Lingkungan Strategis (Pus Lingstra), Jakarta.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here