Beranda KOLOM

Artikel: Fundamental Ekonomi Kuat

BERBAGI
Foto: Otjih Sewandarijatun

 

Foto: Otjih Sewandarijatun
Foto: Otjih Sewandarijatun

Oleh : Otjih Sewandarijatun *)

Badai krisis keuangan global yang sudah berlangsung hampir dua tahun, secara perlahan telah merangsek ke kawasan asia pasifik. Indikatornya adalah, negara yang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi semakin baik belakangan.

Yakni India dan Cina yang ditandai dengan tumbuh suburnya sentra-sentra industri, permintaan konsumsi energi yang tinggi dan lain sebagainya. Namun, karena fundamental ekonomi yang dibangun diatas ekonomi berbasis pasar, tetap mengalami guncangan krisis ekonomi global.

Kawasan India yang memiliki pertumbuhan ekonomi stabil tak luput dari guncangan krisis global. Kondisi ekonomi India mengalami inflasi, mencapai 10 persen, defisit anggaran belanja dan pendapatan negara 7 persen, pertumbuhan ekonomi turun dari diatas 7,5 persen menjadi 4,3 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi Cina melambat pada periode April hingga juli menyusul ekspansi yang melemah. Pertumbuhan ekonomi tirai bambu melambat 7,5 persen dibandingkan sebelumnya mencapai 7,7 persen pada periode Januari hingga Maret 2013.

Perlambatan perekonomian Cina akan membuat perdagangan Indonesia ke Cina ikut terhambat, sebab Cina merupakan tujuan ekspor (mayoritas raw material tambang) yang tertinggi dari Indonesia.

Kemudian Krisis ekonomi global juga telah melanda Thailand, proyeksi pertumbuhan ekonominya melambat menjadi 3,8% dari tahun sebelum 4,2%. Ekonomi Thailand menurun drastis karena permintaan China dan India melemah. Kedua negara ini menjadi tujuan utama ekspor Thailand.

Kondisi ketiga negara menjadi cerminan bahwa fundamental ekonomi yang dibangun diatas liberalisasi pasar, pasti akan terkena dampak langsung dari krisis ekonomi global.

Tentunya kondisi ini menjadi early warning bagi pemerintahan saat ini untuk sigap dan selalu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan gejolak yang terjadi di pasar global maupun domestik.

Krisis Ekonomi 2013 : Ujian Terakhir Pemerintahan SBY

Di akhir masa jabatannya, lagi-lagi Pemerintahan SBY mendapat ujian tentang guncangan dalam perekonomian nasional, akibat dari krisis keuangan global yang tidak kunjung mereda.

Tentunya kita semua berharap bahwa pemerintahan SBY mampu melewati ujian dari dampak krisis keuangan global, sehingga stabilitas ekonomi nasional tetap tumbuh dan berkembang.

Sejak krisis ekonomi global dua tahun silam, Pemerintah sudah mendapat warning agar segera menempuh langkah-langkah antisipatif, terutama berkaitan dengan defisit neraca perdagangan, seperti meningkatkan ekspor menekan impor.

Segera menaikan harga BBM bersubsidi, untuk mengurangi impor minyak dan memperkuat struktur industri dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan barang modal. Tapi, pemerintah mengklaim bahwa fundamental ekonomi nasional masih tahan terhadap goncangan krisis ekonomi global.

Meskipun belum mengalami krisis, kepanikan para pelaku pasar cukup menghebohkan, yang ditunjukan dengan indikator Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupaih terhadap dollar AS mengalami pelemahan mencapai level Rp.11.000 per dollar AS.

Neraca perdagangan, cadangan devisa dan neraca transaksi berjalan yang juga menurun. Kepanikan pelaku pasar tidak boleh dipandang sebelah mata, karena alasannya cukup rasional yakni melihat fundamental ekonomi bermasalah.

Meskipun laju pertumbuhan ekonomi masih diatas 5,5 %, namun goncangan ekonomi global membuat ekonomi nasional mengalami defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan dan defisit neraca pembayaran.

Defisit neraca transaksi berjalan naik pesat dari 5,8 miliar USD pada kuartal I ke 9,8 miliar USD kuartal II tahun 2013. Kemudian defisit transaksi berjalan cukup serius, yang dipicu defisit neraca perdagangan yang terus membesar.

Kondisi ini memicu capital outflow sehingga neraca perbayaran pada kuartal I defisit 6,6 miliar USD sedangkan pada kuartal II mengecil menjadi 2,5 miliar USD.

Penyebab defisit perdagangan adalah impor minyak dan produk minyak, serta impor produk nonmigas terutama produk industri terus meningkat tajam. Sementara itu, defisit perdagangan akan terus meningkat karena selain impor nonmigas, impor migas dan BBM masih memperlihatkan peningkatan cukup tajam.

Tidak heran jika para pelaku pasar memiliki persepsi negatif terhadap perekonomian nasional. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2008, posisi fundamental ekonomi dan non-ekonomi jauh lebih kuat.

Cadangan devisa tercatat sebesar 92,67 miliar $ USD, rasio utang terhadap PDB hanya kisaran 24 persen, pertumbuhan ekonomi melambat diproyeksikan diatas 5,5 persen dan investor di sektor riil meningkat 30,3 persen pada semester I/2013.

Meskipun kondisi fundamental ekonomi masih dalam batas aman, namun kewaspadaan dan kebijakan untuk segera merespon kondisi pasar tetap harus dilakukan, guna menghindari dampak buruk krisis ekonomi.

Langkah cepat untuk mengantisipasi meluasnya dampak krisis keuangan global, telah diambil pemerintahan bersama-sama dengan BI dan Otoritas Jasa Keuangan.

Empat Kebijakan yang dikeluarkan setidaknya membuat pasar berjalan positif belakangan. Namun pasar yang tenang belum tentu menjadi jaminan berlangsungnya ekonomi yang stabil, semua tergantung fluktuatif pasar yang tidak menentu.

Kebijakan Pemerintah untuk mengatasi defisit transaksi berjalan dan memperbaiki neraca pembayaran, kebijakan menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli dan kebijakan untuk meningkatkan investasi.

Sementara itu BI dan OJK berperan menstabilkan rupiah dan menahan penurunan harga saham. Paket kebijakan pemerintahan, untuk menangkal gejolak guncangan ekonomi global dengan mendorong ekspor dan memberi keringanan pajak kepada industri yang berorientasi ekspor.

Pemerintahan juga akan menurunkan impor migas dengan memperbesar biodiesel dalam solar. Pemerintah akan menetapkan pajak barang mewah, lebih tinggi untuk mobil CBU dan barang import bermerek dari mencapai 125% hingga 150%.

Kemudian untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintahan akan memastikan defisit APBN 2013 sebesar 2,38% dan pembiayaan aman, pemerintah juga akan memberikan insentif kepada industri padat karya termasuk keringanan pajak.

Kebijakan untuk menjaga daya beli. Pemerintah berkordinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan Inflasi. Kemudian kebijakan untuk mempercepat investasi.

Pemerintah akan mengefektifkan sistem layanan terpadu satu pintu, perizininan investasi. Pemerintahan juga akan mempercepat revisi peraturan daftar negatif investasi (DNI), mempercepat investasi di sektor yang berorientasi ekspor dengan memberikan insentif serta percepatan renegosiasi kontrak karya pertambangan.

Empat paket kebijakan ekonomi, untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi global harus dijalankan secara bersama-sama baik pemerintahan pusat, hingga pemerintahan daerah dan seluruh stakeholder lainnya.

Pemerintah harus selalu konsisten untuk menjalankan empat paket penyelamatan ekonomi nasional, sehingga outputnya bisa secara optimal dirasakan oleh masyarakat luas.

Kita semua berharap bahwa ujian akhir yang dihadapi pemerintahan SBY dapat segera diatasi secara bersama-sama. Keberhasilan Pemerintahan SBY mengatasi dan mengantisipasi dampak krisis ekonomi global, akan menjadi cerminan dan pijakan.

Pemerintahan berikutnya untuk melanjutkan seluruh kebijakan ekonomi yang berhasil tumbuh melebihi pertumbuhan ekonomi Eropa dan AmerikaSerikat.

*) Penulisadalah alumnus Udayana, Bali dan peneliti di Lembaga Analisa Politikdan Demokrasi. Tinggal di Jakarta.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here