Beranda OPINI

Antara Karir dan Dukun

BERBAGI

“Ikhtiar wajib, mendapat warus” demikian ungkapan orang-orang tua di Gayo, yang maksudnya wajib berusaha, tetapi kalau dapat syukur, kalau tidak dapat berusaha lagi sampai dapat. Makna pesan spesifiknya, berusaha pun belum tentu dapat, apalagi tidak berusaha maka mustahil dapat.

Kalau kita pergi kepada guru, orang pinter atau dukun, ungkapan “ikhtier wajib, mendapat warus” sangat familiar di telinga kita, terutama pada saat mulai prosesi pengobatan atau pengisian ilmu; kewibawaan, penunduk, pemanis, pengasih, kebal dan lain-lain.

“Ikhtiar wajib, mendapat warus” juga ungkapan lain untuk meyakinkan kepada pasien atau calon murid bahwa praktek pengobatan atau pengisian ilmu secara ghaib tersebut tidak bertentangan dengan agama.

Semua orang ingin meningkatkan karirnya, namun nafsu manusia ingin yang instan, ingin jalan pintas, tidak ingin proses, tidak sabar, sehingga salah satu upaya adalah mendatangi guru, orang pintar atau dukun yang diyakini dapat mengantarkan ke pintu gerbang kesuksesan karir. 

Apalagi pada musim penyalegkan atau Pilkada semua praktek perguruan dan perdukunan tidak kekurangan murid atau pasien. Bahkan satu orang caleg atau calon kepala daerah mempunyai berbilang guru atau dukun. Tidak jarang satu dukun didatangi semua kandidat, tetapi sang guru atau dukun pandai merahasiakan murid atau pasiennya.

Sebenarnya ilmu itu berbanding lurus dengan kemampuan. Sang guru atau dukun hanya mengolah potensi yang ada pada diri kita dengan menaikan sugesti percaya diri kita. Dengan kata lain guru atau dukun hanya memainkan jiwa kita.

Tujuan mendatangi guru atau dukun sebenarnya proses meyakinkan diri sendiri. Padahal semuanya potensi ada pada diri sendiri, hanya saja kita belum tahu diri sehingga tidak percaya diri kalau guru atau dukun yang terbaik adalah diri sendiri. 

(Mendale, 31 Januari 2019)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here