Beranda BERITA Alas Gayo Riwayatmu Kini

Alas Gayo Riwayatmu Kini

BERBAGI

Blangkejeren (LeuserAntara) : Sebelum Indonesia dijajah oleh Belanda, rakyat Gayo Lues di Provinsi Aceh telah pandai menayu (menganyam) alas gayo (tikar pandan). Pekerjaan kaum hawa ini ditekuni mulai dari anak – anak hingga orang dewasa di sana.

Tikar pandan biasanya dipakai pada waktu tertentu saja seperti ketika hari kebesaran Islam seperti pada hari Raya Aidul Fitri, Aidul Adha, Maulid Nabi, Isra’ dan Mikrat serta berlangsungnya acara tarian saman dua hari dua malam.

Namun, tradisi ini menjadi berubah saat ini, animo penggiat menganyam tikar pandan mulai berkurang karena mudahnya mendapatkan tikar berbahan plastik di pasar dengan harga yang terjangkau.

Sementara, harga tikar pandan cukup bervariasi tergantung dengan panjang dan lebarnya mulai dari Rp200. 000-Rp250.000/unit.

Seorang penggiat penganyam tikar, Fatimah Sam 33, warga Desa Kute Bukit Kec. Blangpegayon Kab. Gayo Lues Rabu (6/9/17) mengakui tradisi menayu mulai berkurang ditekuni warga  jika dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Buktinya, tutur dia, anak gadis di jaman modren sekarang tidak pandai lagi menganyam. Apa lagi bahan untuk pewarna sangat sulit didapatkan di pasar kota Blangkejeren, batang pandan banyak dibabat menyebabkan bahan baku mulai berkurang.

“Berkurangnya tenaga pengayam juga menyebabkan tikar yang dibuat hanya satu unit selama  sepekan,’’ jelasnya.

Hasil anyaman yang ia buat selain dijual di tingkat lokal, juga telah menembus pasar ibu Kota seperti Jakarta, meski mayoritas masih diminati para kolega di sana. Selain itu, keberadaan tikar gayo ini juga kerap jadi cindra mata para pejabat Gayo Lues untuk  tamu pejabat yang datang dari luar daerah.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, dirinya berharap pemerintah Gayo Lues dapat mencari solusi agar tikar asli asal daerah itu tidak punah. Mungkin, salah satu cara menanggani minimnya hasil produk lokal berupa tikar gayo yakni dengan membuat pelatihan menganyam dan menjamin ketersediaan  bahan pewarna (senam).

Menurut Eva, pelaku pengayam tikar pandan lainnya, cara mengambil daun pandan biasanya menggunakan parang, selanjutnya para pengrajinnya terlebih dahulu membuang duri yang ada di daun serta dibersihkan.

Kemudian, ujung dan akar pandan dipotong sesuai dengan ukuran panjang dan lebar tikar yang dimaksud. Lalu pandan diiris-iris menggunakan seutas nilon baru direbus selama setengah jam dengan takaran airnya hingga mendidih kira-kira telah berubah warnanya baru pandan dijemur selama 15 menit tanpa memanfaatkan sinar matahari hingga warnanya berubah menjadi putih.

Selanjut mengupas bulu halus pandan yang telah langus (iris) baru direndam kembali selama12 jam, baru dijemur dibawah trik matahari sampai kering. Terakhir, tidak diberi pewarna diaduk dengan cara merebus air secukupnya hingga mendidih lalu masukan pewarna sesuai dengan keinginan,’’ papar Eva.[] (Red/Teuku Raja)

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here