Beranda ACEH TENGAH Ada Kopi “Pahlawan” di Reje Bukit

Ada Kopi “Pahlawan” di Reje Bukit

BERBAGI

PELUANG mengais rezeki mengandalkan komoditi unggulan kopi arabika gayo kian mengeliat. Selain petani sebagai pelaku di akar rumput, sebagian pejabat juga mulai terjun, bekerja sampingan jadi pebisnis.

Erwin misalnya, mantan Kadis Bina Marga Aceh Tengah, ia kini mulai bercengkrama dengan usaha kopi. Disela kesibukannya sebagai abdi negara yang bertugas di Kab. Gayo Lues, Prov. Aceh, dia mulai merintis usaha cafe di Kp. Reje Bukit, Kec. Bebesen, KotaTakengen.

Menggunakan brand “Pahlawan Coffee” Erwin mulai menyempatkan diri bergelut dengan buah penghasil cafein itu. Dalam grand opening Sabtu kemarin, Erwin menuturkan, selain bisnis, keberadaan usaha tersebut  bisa sebagai wadah membangun kebersamaan antar masyarakat di daerah dingin itu.

“Aktifitas saya sekarang di Gayo Lues (Sebelumnya PNS di Aceh Tengah -red). Adanya cafe ini saya kira akan jadi sarana bagi kita untuk saling bersiratuhrahmi,” katanya.

Erwin bukanlah satu-satunya pelaku usaha cafe di negeri “Petro Kopi”  itu. Ada puluhan atau lebih dari seratusan cafe bertaburan diseputar kota hingga di daerah pinggiran. Bahkan munculnya cafe-cafe bernuansa modren ini seperti pertumbuhan jamur di musim penghujan.

Hal itu juga, dimungkinkan sebagai salah satu pendorong bergeraknya arus jumlah wisatawan ke sana, selain tujuan utama mereka untuk mengunjungi Danau Lut Tawar yang berada di sudut jantung Kota Takengen.

Catatan penulis, seiring meningkatnya permintaan konsumen dunia maupun lokal terhadap hasil pertanian satu ini, secara tidak langsung telah membuat warga kepincut di sektor kopi. Ada 80 persen warga di sana bergantung secara ekonomis dari hasil komoditi arabika.

Denyut ekonomi warga khususnya di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah maupun Bener Meriah melalui kopi  mulai berdetak normal. Selain bertani, masyarakatnya sudah mulai terjun sebagai pengusaha. Hal itu dibuktikan dengan maraknya cafe bernuansa sajian modren.

Kenapa disebut sajian modren? Ada “pergeseran” minat para konsumen saat ini dalam mencicipi nikmatnya citarasa maupun aroma kopi gayo di sana. Bila dulu kopi sedu ala tradisional berbahan jenis robusta yang digemari, namun kini olahan biji arabika  memakai mesin ekspresso yang digandrungi.

Meski cara penyajian dan pengolahan kopi beda jenis ini sangat berbeda. Namun warga yang melakoni bisnis tersebut, baik pemilik Warkop maupun cafe tetap  tumbuh harmonis saling berdampingan dalam upaya menggaet minat konsumen. Selain memiliki pelanggan tetap, mereka juga memiliki pangsa pasar dalam menyalurkan keunggulan produknya.[] ***Irwandi MN

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here